Lelaki Sunda Dilarang Menikahi Gadis Jawa, Benarkah?

Saya adalah orang yang banyak melanggar tabu atau pamali. Rumah yang saya tempati saat ini dalam posisi tusuk sate. Padahal, sebagian orang mempercayai bahwa rumah dalam posisi seperti ini sangat tabu karena berada dalam posisi tidak menguntungkan atau jauh dari hoki.

Tak ada ritual khusus saat saya dan isteri menempati rumah tusuk sate tersebut. Sebagai sepasang pengantin baru, tiada hal yang dipikirkan kecuali bagaimana bisa terus berduaan. Kebetulan waktu itu sedang musim penghujan.  Siang dan malam terasa dingin. Faktor dukungan cuaca inilah yang telah membantu proses reproduksi keturunan hingga tiap dua tahun sekali lahir anggota baru dalam keluarga kami.

Sumber: Kaskus

Saya orang Sunda yang menikahi gadis Jawa. Padahal, para pemangku adat dalam kesukuan kami begitu kuat melarang keras seorang lelaki Sunda menikahi gadis Jawa. Larangan tersebut didasarkan pada legenda Perang Bubat yang berlangsung pada abad ke-13.

Konon, Raja Majapahit, Hayam Wuruk,  berkehendak mempersunting puteri dari Kerajaan Sunda. Atas restu dari keluarga kerajaan Majapahit, Hayam Wuruk mengirimkan surat kehormatan kepada Raja Sunda, Maharaja Linggabuana, untuk melamar Dyah Pitaloka.

Raja Sunda datang ke Bubat beserta permaisuri dan putri Dyah Pitaloka dengan diiringi sedikit prajurit. Sebagaimana termaktub dalam Kidung Sundayana, timbul niat Mahapatih Gajah Mada untuk menguasai Kerajaan Sunda. Gajah Mada ingin memenuhi Sumpah Palapa yang dibuatnya pada masa sebelum Hayam Wuruk naik tahta, sebab dari berbagai kerajaan di Nusantara yang sudah ditaklukkan Majapahit, hanya kerajaan Sunda yang belum dikuasai.

Dengan maksud tersebut, Gajah Mada membuat alasan untuk menganggap bahwa kedatangan rombongan Sunda di Pesanggrahan Bubat adalah bentuk pasrah bongkokan Kerajaan Sunda kepada Majapahit. Gajah Mada mendesak Hayam Wuruk untuk menerima Dyah Pitaloka bukan sebagai pengantin, melainkan sebagai tanda takluk Negeri Sunda dan sebagai bentuk pengakuan superioritas Majapahit atas  Kerajaan Sunda di Nusantara.

Belum lagi Hayam Wuruk memberikan putusannya, Gajah Mada sudah mengerahkan pasukan ke Pesanggrahan Bubat dan mengancam Linggabuana untuk mengakui superioritas Majapahit. Demi mempertahankan kehormatan sebagai ksatria Sunda, Linggabuana menolak tekanan itu.

Terjadilah peperangan yang tidak seimbang antara pasukan Gajah Mada yang berjumlah besar melawan pasukan pengawal Linggabuana yang berjumlah kecil ditambah para pejabat dan menteri kerajaan yang ikut dalam kunjungan itu. Peristiwa itu berakhir dengan gugurnya Linggabuana, para menteri, pejabat kerajaan beserta segenap keluarga kerajaan Sunda di lapangan Bubat.

Tragedi ini kemudian merusak hubungan diplomatik antar kedua negara dan terus berlangsung hingga bertahun-tahun kemudian. Hubungan Sunda-Majapahit tidak pernah pulih seperti sedia kala. Pangeran Niskalawastu Kancana, adik Putri Pitaloka yang kemudian naik takhta, selanjutnya menerapkan kebijakan pemutusan hubungan diplomatik dengan Majapahit.

Isolasi terbatas pun diterapkannya. Akibat peristiwa ini pula, di kalangan kerabat Negeri Sunda diberlakukan peraturan larangan istri ti luaran, yang isinya, antara lain, tidak boleh menikah dari luar lingkungan kerabat Sunda. Sebagian lagi mengatakan tidak boleh menikah dengan pihak Majapahit. Peraturan ini kemudian ditafsirkan lebih luas sebagai larangan bagi orang Sunda untuk menikahi orang Jawa.

Alhamdulillah, tak ada pengaruh yang kami rasakan akibat melanggar larangan ini. Semoga demikian selamanya. Semoga bersatunya saya dengan isteri saya ini bisa menjadi simbol rekonsiliasi atau upaya menempuh jalan damai antara nenek moyang saya (Kerajaan Sunda) dengan leluhur isteri saya (Majapahit).

Stigma kesukuan harus sudah mulai kita tinggalkan sebab amuk massa yang berlangsung di sebagaian kecil penjuru tanah air, di antaranya, dipicu oleh sentimen kesukuan. Lepaskan kesukuan sebagai kriteria dalam menetapkan jodohmu.

 

16 Comments

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*