Prejudice alias Su’uzon

Su'uzon

Pak Boss mengajak kami rapat malam hari. Rapat dimulai pukul 19.00 WIB dan baru berakhir pukul 23.00 WIB. Dengan kepala sedikit pening, pukul 23.15 WIB saya beranjak meninggalkan ruang rapat. Selanjutnya, menghidupkan mesin mobil dan terus kabur menuju rumah.

Kota Surabaya masih menyisakan kehidupan di tengah malam itu, tapi saya tidak tergoda untuk berada dalam cengkramannya. Ingatan saya hanya satu: segera kembali ke rumah; segera bertemu anak dan istri.

Mobil saya pacu dalam kecepatan sedang. Setelah menggasak tikungan jalan Temba’an, memasuki kawasan Pasarturi, dan menerobos perempatan jalan Demak, sampailah saya di Pasarloak. Menjelang masuk Gerbang Tol Dupak, saya perhatikan ada seseorang yang melambaikan tangan. O, rupanya seorang bapak tua bersama seorang anak umur belasan. Mobil saya hentikan, lalu masuklah dua orang yang butuh tumpangan itu.

Bapak tua itu menyebutkan baru pulang menemui saudaranya di Gresik dan akan kembali ke Tulungagung. Katanya sejak sore tadi sambung-menyambung nunut kendaraan orang. Dari nada bicaranya saya bisa menangkap bahwa ia tengah membutuhkan uluran tangan.

Tapi, hati kecil saya masih saja bersu’uzon. Benarkah dia sedang dalam kesulitan? Jangan-jangan ini hanya modus operandi kejahatannya; sebagai praktik akal bulusnya saja. Bukan apa-apa, saya sudah berkali-kali dikadali orang. Sebelumnya pernah ada orang yang mengaku kehabisan ongkos dan minta uang kepada saya untuk pulang ke kampung halamannya. Esok harinya, saya bertemu lagi dengan orang tersebut yang juga masih menengadahkan tangan minta duit untuk ongkos pulang.

“ Lha, Bu….. Sampeyan itu kemarin minta ongkos pulang, sekarang minta ongkos lagi. Rupanya kemarin gak langsung pulang, ya? ” teriak saya.

Kepercayaan memang bisa berkurang manakala kita sering dibohongi, ditipu, dijanjikan macem-macem. Pernahkah kamu dikadalin laki-laki? Sehingga, setiap ada lelaki yang datang, kamu selalu menarik kesimpulan dini. Pikirmu, paling-paling ujungnya sama dengan yang dulu-dulu. Ngibulin. Nipu!

Wis, jangan terus menerus bersu’uzon begitu. Bukankah Pak Basofi Sudirman dalam lirik lagu dangdutnya berkata bahwa tidak semua laki-laki bersalah padamu. Tidak semua laki-laki jahat padamu. masih banyak di antara mereka yang baik budi dan baik hati. Contohnya saya. He-he-hehhh!

Ah, sudahlah jangan terperangkap su’uzon seperti itu. Lebih baik seperti saya saja. Kemarin, bapak tua beserta anaknya itu, sesampainya di Terminal Bungurasih, saya beri saja ongkos pulang ke kampung halamannya. Setelah itu, saya padamkan pelan-pelan perasaan su’uzon saya. Beres sudah!

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*