Rohah

Rohah“Setiap hari saya hanya bisa berpapasan dan ber– say hello saja dengan suami saya. Saat saya bangun dia dalam kondisi tidur. Sebaliknya, saat saya tertidur, dia sedang bekerja keras di depan laptopnya.” Itulah keluhan yang saya terima dari seorang kawan yang sukses meraih impiannya menjadi seorang istri pengusaha kaya raya.

Sebelumnya dia membayangkan bahwa menjadi pendamping seorang lelaki kaya bisa mendapatkan peluang waktu untuk bersenang-senang. Bisa bepergian ke luar negeri ke mana pun dia suka. Belanja di seantero lokasi shopping kenamaan dunia. Dan itu semua bisa dilakukannya dengan sosok yang paling dicintainya: suaminya.

Tapi apa lacur, ternyata itu semua hanyalah impian belaka. Memang untuk urusan harta dan kebutuhan pribadi dirasakannya sangat sangat berlebih. Sayang, kebutuhan kasih sayang yang selama ini diimpikannya tidak bisa diperolehnya dari sang suami. Kini ia menjadi sosok yang kesepian di dalam mahligai rumah tangganya sendiri.

Suaminya asyik bergelut mengejar laba demi laba dari usahanya. Setelah keuntungan ratusan juta rupiah diperolehnya, kini ia mengejar laba miliaran. Tidak tertutup kemungkinan, setelah keuntungan miliaran diraihnya, ia akan segera memasang target demi keuntungan triliunan rupiah.

Begitulah kalau hawa nafsu dan sikap serakah sudah menguasai hidup kita. Sampai kapan pun tidak akan ada habisnya untuk mengejar harta. Tadinya kita berpikir bahwa jika kekayaan semakin menumpuk, kita akan semakin banyak memiliki luang waktu alias rohah untuk kesenangan kita. Kenyataannya, justru sebaliknya.

Ternyata rohah itu jauh lebih banyak dimiliki oleh orang-orang sederhana daripada orang-orang yang bergelimang harta. Cukup masuk akal, orang-orang sederhana memiliki peluang waktu untuk bersenang-senang karena tidak disibukkan dengan urusan hartanya. Sebaliknya orang-orang yang bergelimang harta akan sangat kesulitan buat melakukan kesenangan. Jumlah waktu yang 24 jam itu habis digunakannya untuk memikirkan dan menjaga hartanya tersebut.

Barangkali itu sebabnya Abu Bakar senantiasa mendermakan hartanya untuk kepentingan kaum duafa. Ya, hanya dengan cara seperti itulah pada akhirnya sahabat Rasulullah itu mendapakan rohah-nya sehingga dapat dengan leluasa beribadah dan memperhatikan kepentingan keluarganya.

Jika saat ini kita sedang berdampingan dengan seseorang yang memang sisi kekayaannya amatlah jauh untuk disebut berlebih, maka sesungguhnya kita sedang beruntung sebab dia memiliki rohah untuk mencurahkan kasih sayangnya kepada kita.

Tengoklah teman saya. Ia menemui kesulitan untuk bisa berkomunikasi dengan suaminya. Seperti yang dikeluhkannya, untuk sekedar bisa mengobrol selama lima belas menit saja sangatlah sulit rasanya.

2 Comments

  1. artikel yang sangat keren mas broo, iya tuh bisa bisa sang isteri galau terus mengejar keinginnaya ahkirnya seeeelingkuh, aturan kita itu janganterlalu mentargetkan harta dunia gak akan ada hbis2habisnya……!

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*