Kita Sering Terperdaya oleh Tampilan Casing

Kita Sering Terperdaya oleh Tampilan Casing

Dalam sebuah cerita pendek berbahasa Sunda yang ditulis oleh Ahmad Bakri dikisahkan seorang gadis desa yang sedang menjaring jodohnya. Dengan berbekal uang hasil penjualan kerbau dan sebidang sawah milik orang tuanya, si gadis desa itu kemudian tinggal dengan paman dan bibinya di kota. Uang kerbau dan sawah itu digunakannya untuk “memordernisasi” dirinya. Apa saja yang sedang menjadi tren bagi anak muda pada masa itu selalu ditirunya. Model pakaian, potongan rambut, hingga gaya pergaulan yang dianggapnya mencerminkan budaya modern, tak luput dari perhatiannya. Kemudian diikutinya.

Pada suatu waktu datanglah seorang pemuda ganteng dan parlente yang mengaku bertugas di sebuah kesatuan tentara. Pemuda gagah itu memperkenalkan  dirinya sebagai seorang perwira muda berpangkat kapten. Gadis mana yang tidak akan kepincut. Sudah ganteng dan gagah, kapten lagi. Pada masa 60-an, seorang kopral saja bisa menjadi idola para gadis belia. Ini kapten, Men!

Akhirnya, pikir si gadis desa itu, mangsa besar yang dinanti mulai masuk jeratan asmaranya. Maka disebarkannyalah kabar baik itu kepada kedua orang tuanya. Di desa, kedua orang tuanya pun melaksanakan kenduri kecil-kecilan sebagai tanda syukur atas jodoh yang bakal diraih oleh anak barepnya itu.

Tak ada topik pembicaraan lain yang hangat selain sang kapten muda itu. Setiap berdekatan dengan Pak Kapten, si gadis desa itu selalu merasa masa depannya kian cemerlang. Ketika ada lelaki lain yang mencoba mendekatinya, ia merasa bahwa level lelaki itu tak ada apa-apanya dibandingkan Pak Kapten.

Beberapa minggu kemudian, si gadis desa itu baru menyadari bahwa lelaki yang digandrunginya itu ternyata penipu. Ya, polisi kemudian membekuk sang kapten ketika sedang berasyik masyuk dengan si gadis desa itu di sebuah kamar hotel di pinggiran kota. Ternyata, sosok parlente itu seorang perwira gadungan. Ia hanyalah seorang pemuda pengangguran yang biasa morotin harta mangsanya.  Gadis desa itu pun bukanlah satu-satunya perempuan yang pernah ditipunya. Masih ada puluhan gadis lain yang bernasib sama seperti halnya si gadis desa itu.

Kawan, sejatinya kita pun sama dengan gadis lugu dari desa itu. Kita sering terperdaya oleh penampilan luar seseorang hingga lupa untuk menelisik jeroannya. Kita pun sering mabuk kepayang dan tertipu oleh tampilan casing. Maka mulai hari ini, jika didekati oleh cowok ganteng nan parlente dan mengaku hartanya ngaleuya di mana-mana serta bahasa pembicaraannya penuh dengan berbagai kosa kata yang terdengar asing di telingamu, silakan klepek-klepek dulu. Tapi, setelah itu segera kembalikan kesadaranmu lalu bangunlah kewaspadaanmu. Siapa tahu orang itu adalah “Pak Kapten” yang bereinkarnasi kepada penerusnya.

Jangan biarkan hidupmu harus menanggung malu akibat sikap teledormu. Sekali lagi saya serukan ke segenap penjuru: “Jangan terkecoh oleh tampilan casing seseorang. Sampai kapan pun!”

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*