Kebahagiaan Tertinggi Itu Terletak pada Sifat Qana’ah

Kebahagiaan Tertinggi Itu Terletak pada Sifat Qana’ahKetika hidup menjomblo keinginanmu untuk beroleh pasangan sedemikian besarnya. Namun, saat seseorang telah menjadikanmu sebagai tambatan hatinya, kamu mulai menghitung-hitung kekurangannya. Kamu mulai membanding-bandingkan dirinya dengan yang lain.

Temanmu diantar ke sana ke mari oleh tunangannya dengan mobil sport produk terbaru yang limited edition. Sementara calon suamimu wira-wiri ke sana ke mari berkendaraan sepeda motor butut tahun 90-an. Mulailah timbul rasa penyesalanmu. Mengapa Tuhan tidak mempersandingkanmu dengan seorang lelaki tajir.

Rasulullah SAW memahami betul kelemahan umatnya. Oleh sebab itu Beliau menganjurkan kita agar menghadapi kehidupan ini dengan qana’ah. Kata qana’ah mengacu pada makna ikhlas menerima atas anugerah yang telah Tuhan turunkan.

Orang-orang yang qana’ah akan menerima segala keputusan Allah SWT serta menjalaninya dengan sabar. Dia bersyukur ketika semua impiannya tersebut bisa tercapai dan tetap bersabar ketika  cita-citanya belum terwujud.

Sebesar apa pun nikmat Allah yang diturunkan kepada kita, jika tidak ditanggapi dengan qana’ah, maka kita akan selalu merasa kurang sehingga lupa untuk bersyukur kepada-Nya.

Istri atau calon istri, suami ataupun masih calon suami adalah anugerah terindah yang telah Allah turunkan kepada kita. Soal kekurangan yang dimilikinya, baik kepemilikan hartanya maupun performance-nya, jangan diungkit-ungkit. Mestinya kita bersyukur sebab masih banyak di antara teman-teman kita yang hingga saat ini masih belum beroleh jodoh.

Jika hidup kita serba qana’ah, maka beban hidup ini akan selalu terasa ringan sebab kita senantiasa memandangnya hanya dari sudut kebahagiaan semata. Dalam situasi terpuruk sekalipun, rasa syukur akan selalu terbit dalam batin kita.

Masih ingatkah dengan kisah Abunawas yang tetap bersyukur ketika pakaian yang dijemurnya jatuh? Yups, sekalipun pakaian itu akhirnya kotor, Abunawas masih mengucapkan rasa syukurnya. “Alhamdulillah,” katanya, “Untung yang jatuh itu hanya baju. Jika di dalam baju itu ada badanku maka akan lebih celaka lagi awak ini.”

Memang rumit jalan yang terbentang dalam kehidupan serba qana’ah. Sepertinya tidak masuk akal dan sulit bisa kita jalani. Tapi sesungguhnya jika qana’ah inilah yang menjadi pilihan, dijamin hidup kita akan bahagia hingga hari akhir nanti. Kebahagiaan yang hakiki itu sesungguhnya terletak pada sifat qana’ah.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*