Kawin Kontrak, Setujukah Kamu?

kawin kontrak

Foto: www.republika.co.id

Mungkin saat ini kamu sedang dalam dilema karena ada seorang pria dari luar negeri yang berhasrat menikahimu. Namun status pernikahan tersebut adalah kawin kontrak. Sebelum melangkah lebih lanjut, ada baiknya kamu membaca uraian di bawah ini. Saya mencoba mengintisarikannya dari berbagai sumber pemberitaan. Semoga bermanfaat.

Pada pertengahan tahun 2011, Kawasan Puncak Bogor Jawa Barat diguncang issu kawin kontrak yang dilakukan oleh beberapa wanita setempat dengan para lelaki berasal dari Timur Tengah. Konon katanya, para wanita yang dikawin kontrak tersebut berasal dari wilayah Kabupaten Bogor, seperti kelurahan Cisarua, Desa Tugu Selatan, Tugu Utara, di Kecamatan Cisarua. Beberapa di antaranya berasal dari wilayah Cianjur dan Sukabumi.

Ya, hawa dingin Puncak telah membuat lelaki WNA dari negara Arab Saudi, Kuwait, Iran, Irak dan termasuk Turki menggigil sehingga perlu penghangat badan. Kebetulan di sana terdapat penyedia jasa kenikmatan syahwat seminggu. Para calo itu menyediakan wanita muda untuk dijadikan sebagai istri siri dalam sebuah mahligai yang disebut kawin kontrak.

Rata-rata para istri siri itu berusia 16-18 tahun. Beberapa di antaranya, bahkan ada yang sudah menjalani kawin kontrak lebih dari sepuluh kali. Susi Misalnya, menurut pengakuannya dia telah menjalani praktik tersebut hingga sebelas kali. Remaja berusia 17 tahun itu terdorong melakukan perbuatan tersebut karena ekonomi keluarganya sangat morat-marit. Ayahnya hanya seorang pengojek dengan penghasilan pas-pasan. Oleh karena itu, Susi harus mencari upaya sendiri untuk memenuhi kebutuhan pribadinya.

Pro dan Kontra Kawin Kontrak
Kawin kontrak telah mengundang polemik di mana-mana. Sebagian ada yang pro namun tidak sedikit yang menentangnya. Yang setuju beralasan bahwa kawin kontrak tidak merugikan pihak perempuan. Perekonomian pihak wanita yang menjalani kawin kontrak justru sangat terbantu.

Sementera itu pihak yang menentangnya berpendapat bahwa kawin kontrak sangat merugikan pihak perempuan. Sony warga Cisarua, sebagaimana dikutip oleh kompas.com berpendapat bahwa banyak wanita yang umurnya masih muda sudah dikawinkan orangtuanya hanya karena untuk mendapatkan uang. Anak-anak remaja itu kemudian menjadi seorang janda saat pria yang mengawininya pulang ke negara asalnya.

Bagaimana sebenarnya hukum kawin kontrak?
Sebenarnya Dewan Pimpinan Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah menetapkan fatwa hukum kawin kontrak pada medio Oktober 1997 lalu. Di dalam fatwa itu MUI memutuskan bahwa nikah kontrak atau mut’ah haram hukumnya.

Sikap keras telah ditunjukkan oleh fatwa yang ditandatangani Ketua Umum MUI, KH Hasan Basri dan Ketua Komisi Fatwa MUI, KH Ibrahim Hosen itu. Sebagimana dikutip oleh harian Republika, pada poin kedua keputusan fatwa kawin kontrak ditegaskan bahwa pelaku nikah mut’ah harus dihadapkan ke pengadilan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Adapun dasar hukumnya adalah Alquran surah al-Mukminun ayat 5-6 yang berbunyi: ”Dan (diantara sifat orang mukmin itu) mereka memelihara kemaluannya kecuali terhadap istri dan jariah mereka: maka sesungguhnya mereka (dalam hal ini) tiada tercela.” Berdasarkan ayat itu, MUI menyatakan bahwa hubungan kelamin hanya dibolehkan kepada wanita yang berfungsi sebagai istri atau jariah.

Lebih lanjut MUI menyampaikan bahwa wanita yang diambil dengan jalan mut’ah tak berfungsi sebagai istri, karena ia bukan jariah. Mut’ah juga tidak mengandung konsekwensi saling mewarisi. Sementara nikah menjadi sebab memperoleh harta warisan. Alasan kedua, iddah mut’ah tak seperti iddah nikah biasa.

Menurut penilaian MUI, Nikah mut’ah bertentangan dengan persyarikatan akad nikah, yakni mewujudkan keluarga sejahtera dan melahirkan keturunan. Nikah mut’ah juga bertentangan dengan UU No 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.

Dalam forum Bahtsul Masail Dinyah Munas NU pada November 1997 di Nusa Tenggara Barat, para ulama Nahdlatul Ulama (NU) telah menetapkan fatwa terkait nikah mut’ah. Dalam fatwanya, ulama NU menetapakan bahwa nikah mut’ah atau kawin kontrak hukumnya haram dan tidak sah.

Di dalam fatwa tersebut juga disebutkan bahwa nikah mut’ah menurut ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah, khususnya mazhab empat, hukumnya haram dan tidak sah. Nikah mut’ah berdasarkan jumhur fukaha termasuk salah satu dari empat macam nikah fasidah (rusak atau tak sah).

7 Comments

  1. anisa sakira says:

    di cari duda/bujang bule untuk kawin kontrak

  2. hai q mau dong di ajak kawin kontrak

  3. Gi mana crx lw mau dftar d kawin kontrak gue pengen dftar nhe,,,,sypa tau aj ad pria bule yg naksir

  4. emang’y rumah bo …….!

  5. lia natalia says:

    Mau dong kawin kontrak

  6. tq atas infonya :)

  7. silahkan add id wechatqu @ayunita481

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>