Jauh Panggang dari Api

Jauh Panggang dari Api

Berpindah ke lain hati dengan tujuan demi gengsi, harga diri, dan masa depan sedang dilakukan teman saya. Tadinya dia berpacaran dengan cowok dari kelas akar rumput. Kantongnya kering. Duitnya cekak. Jarang nraktir lagi. Kalaupun ngajak makan paling banter di warung tenda kaki lima.

Nah, berikutnya dia tertarik bujuk rayu cowok keren dan tajir. Maka berpindah cintalah dia. “Siapa tahu cowok borju itu ngajak kawin,” katanya. Jika benar bisa bersanding dengannya, teman saya berharap bisa kecipratan kekayaannya.

Dengan pacar lamanya, dia hanya bisa menikmati makan mie ayam kelas kaki lima. Ia berharap dengan pacar tajirnya itu bisa makan dan minum dari cafe ke cafe.

Satu bulan setelah jadian, dengan wajah cemberut dia mengadu kepada saya. “Hartanya berlimpah, duitnya segudang, bokapnya  menurunkan warisan sedemikian banyaknya, tapi kok dia pelit amat.”

“Siapa yang kau maksud, pacar barumu tah?” kata saya. Sesungguhnya hati ini tak tega melihat perangai wajahnya yang dipenuhi penyesalan.

“Gak usah kaget. Orang kaya itu punya banyak rencana. Dan semua rencana itu pasti berkorelasi dengan dana yang tidak sedikit. Makanya, dia benar-benar berhemat. Setiap pengeluarannya benar-benar dicatat. Ketika hartanya bertambah, maka bertambah pula rencananya. Maka semakin pelit pulalah dia. Salahmu sendiri, mengapa berpindah ke lain hati. Sudahlah. Jika bisa, balikan saja sama pacar lamamu itu. Dia miskin tapi rezekinya masih bisa kamu nikmati. Sama pacar lamamu kamu masih bisa menikmati bakso dan mie ayam di pinggir jalan. Sama pacar tajirmu itu kamu memperoleh apa?”teriak saya hampir tanpa jeda.

Begitulah nasib teman saya yang satu ini. Dikiranya bersanding dengan seseorang yang berpenampilan cool dan tajir, kualitas hidupnya akan membaik. Kenyataannya jauh panggang dari api.

Mungkin nasib baik sedang tidak berpihak kepadanya. Semoga saja ke depan dia bisa bersanding dengan seseorang yang tajir, baik hati, loman, dan tidak sombong. Barangkali teman saya yang satu ini sedang tidak tepat waktu, tidak tepat tempat, dan utamanya tidak tepat orang. Sehingga, cita-citanya untuk beroleh pendamping yang mapan secara finansial tidak kesampaian.

Dikaitkan dengan materi, pada dasarnya  setiap pribadi akan dihadapkan pada dua piliha: menguasai harta itu atau kebalikannya, dikuasi oleh harta itu. Secara kebetulan, teman saya ini berhadapan dengan orang yang masuk kategori kedua. Tapi, saya optimistis bahwa di kolong langit ini masih banyak hartawan yang masuk dalam kategori pertama. Jadi, jangan alergi dang meng-gebyah uyah  orang-orang yang memiliki kekayaan berlimpah. Insya Allah, di antara mereka masih banyak yang berstatus sebagai seorang dermawan.

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*