Jangan Salahkan Rok Mini Kami, Salahkan Otaknya Saja!

Rok MiniSebelum kasus Xenia maut Tugu Tani mencuat, media nasional kita begitu marak dengan pemberitaan kasus perkosaan di dalam angkutan kota. Dan kita semua mengetahuinya bahwa yang menjadi objek kejahatan tersebut adalah para perempuan. Seingat saya sedikitnya sudah terjadi tiga kasus hampir berurutan di wilayah Jakarta dan Depok.

Sebagai seorang bapak dari anak gadis yang sedang tumbuh remaja, tentu saja saya sangat gregetan dan marah besar dengan peristiwa-peristiwa itu. Sungguh memilukan, seorang ibu yang banting tulang membantu suaminya berjualan sayur harus menerima kenyataan kehormatannya harus direnggut begitu saja. Seorang mahasiswi bahkan pelajar SMP juga tak luput jadi korban kejahatan ini.

Mengapa yang selalu jadi korban mesti kaum perempuan. Pernahkah kalian dengar sekelompok perempuan memperkosa seorang lelaki. Memang ada, tapi intensitasnya sangat-sangat kecil. Saya hanya sekali membaca beritanya. Kejadiannya di Zimbabwe, Afrika.

Terus terang, kalau tidak diberitahu oleh Mbak Adriana S. Ginanjar, mungkin hingga hari ini saya belum ngeuh mengapa kaum lelaki begitu menggelegak nafsu seksualnya, bahkan cenderung brutal jika dibandingkan kaum perempuan. Menurut psikolog Universitas Indonesia itu, semuanya sebagai buah akibat dari daya kerja hormon seksual kaum pria yang jumlahnya melebihi hormon seks perempuan. Kaum wanita hanya dikuasai oleh daya kerja hormon oksitosin yang tampil dalam wujud tingkah laku menyayangi dan rasa cinta yang mendalam.

Jadi, jangan kaget bila kaum lelaki begitu jelalatan matanya saat melihat bagian tubuh sensisitif perempuan yang sedikit terbuka. Barangkali hal inilah yang mendorong Gubernur DKI Jaya, Fauzi Wibowo, September tahun lalu menghimbau kepada kaum perempuan untuk tidak mengenakan rok mini saat berada di angkutan umum.

Menanggapi himbauan ini, para aktivis perempuan sontak meradang. Anggota Perkumpulan Pembela Hak Perempuan mengadakan aksi di Bundaran Hotel Indonesia (HI) guna memprotes pernyataan Gubernur DKI. Mereka meminta Fauzi Bowo untuk meminta maaf atas pernyataannya saat menanggapi sejumlah kasus pemerkosaan di angkutan kota.

Puluhan perempuan itu mengenakan rok mini dan membawa poster bertuliskan “Jangan salahkan baju kami. Hukum si pemerkosa”. “My rok mini is my right” dan “Don’t tell us how to dress. Tell them not to rape”.

“Jangan salahkan rok mini kami. Salahkan otaknya,” ujar salah seorang orator.

Di satu sisi memang ada benarnya apa yang diteriakkan aktivis perempuan itu. Soal mau pake rok mini bahkan berpakaian semi-nude sekalipun itu hak pribadi para pemakainya. Akan tetapi, kalau ingat penjelasan Mbak Adriana tentang begitu masifnya hormon testoteron kaum lelaki sebaiknya himbauan Pak Fauzi Bowo juga turut diperhatikan.

Sister, sebagai bangsa timur yang sangat mengedepankan tentang arti kehormatan, tentunya kamu berharap agar kehormatan yang kamu jaga selama ini kelak dapat dipersembahkan sebagai kado paling istimewa di malam pertama kalian berdua.

Lakukanlah tindakan purbajaga agar semua rencanamu dan keinginan suci kedua orang tuamu berjalan sesuai harapan.  Jangan sampai tindakan durjana menjadi rintangan besar akan hadirnya jodohmu. Jangan sampai menimpamu, bahkan dalam mimpimu sekalipun.

2 Comments

  1. harusnya para lelaki di keluarin aja hormon yang berlebihan itu secara medis, buat peraturannya hukum para pria, dengan begitu para wanita akan bebas dan aman walau bugil bahkan memperlihatkan vaginanya sekalipun , kaya hewan aja ya. .

  2. memang kodrat lelaki seperti itu. seharusnya penulis atau para wanita yang tau agama (dalam islam), mengetahui dan mau tau bagaimana menjaga auratnya, ber pakaiannya. hanya laki2 yang kuat imannya saja yang bisa mengendalikan diri bahkan tidak semua bisa seperti itu. semoga anda bisa bijak dalam mencermati perkataan saya ini.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*