Dilamar Preman, Terima Aja Lagi!

Dilamar Preman, Terima Aja Lagi!Mencermati kehidupan para petinggi negeri ini, saya sering mengusap dada. Sesak napas rasanya. Bagaimana tidak, ada seorang tokoh yang sangat dihormati karena menduduki jabatan prestisius pada sebuah lembaga yudikatif, tiba-tiba harus mengenakan seragam pesakitan KPK. Padahal, masa lalunya sangat bersih dan klimis layaknya pipi Miss Universe. Saat berada di puncak kejayaan, tiba-tiba mengalami titik balik nan menyedihkan.

Merasa frustasi dengan peristiwa itu, akhirnya pada hari ini saya menganjurkan kepada ukhti yang berstatus jomblo agar menikah sajalah dengan seorang preman. Ya, daripada menikah dengan seseorang yang mengklaim dirinya sebagai manusia paling saleh sedunia tapi kenyataannya seorang srigala, lebih baik menikah saja dengan seorang preman namun akhir hidupnya khusnul khatimah.

Jika hidayah datang, seorang preman bisa berbalik status menjadi seorang kiyai. Pengalaman telah membuktikan mengenai hal itu. Masih ingat Umar bin Khatab? Beliau adalah preman di atas preman. Tukang bikin onar di kampungnya dan seorang ahli maksiat. Tapi, pada perjalanan hidup selanjutnya Umar sangat saleh hingga sulit dicari bandingannya.

Beberapa abad silam di Basra bahkan ada mantan preman yang menjadi guru tafsir. Namanya Malik bin Dinar. Alkisah, Malik bin Dinar ini dikenal sebagai seorang preman pasar. Hobi utamanya, di samping malak pedagang dan pengunjung pasar, adalah mabuk-mabukan.

Merasa hidup membujang ternyata memang merana, Malik pun kemudian menikah dengan seorang budak. Dan dari pernikahannya tersebut lahirlah seorang anak perempuan yang diberinya nama Fatimah.

Fatimah amat tidak suka dengan kebiasaan menenggak khamer yang dilakukan oleh ayahnya. Dalam usia masih dua tahun, ketika ayahnya sedang berasyik masyuk dengan minuma haram, Fatimah sering merebut gelas muniman dari tangan sang ayah. Minuman tersebut kemudian ditumpahkan ke pakaian ayahnya tersebut.

Prilaku nyleneh sang anak sama sekali tidak membuat berang Malik bin Dinar. Semakin lama semakin bertambah tinggi cinta kasih Malik kepada sang putri. Bahkan dirinya mulai mengurangi kebiasaan-kebiasaan maksiatnya. Tingkah anaknya seolah menjadi petunjuk yang mengarahkan hidup Malik menuju arah  yang diridai Allah SWT.

Sayang, saat menginjak usia 3 tahun, Fatimah kemudian menghadap ke haribaan-Nya. Peristiwa ini sangat memukul Malik bin Dinar. Ia kemudian kembali ke dunia mabuk-mabukan. Bahkan, penyakitnya tersebut kian menjadi-jadi.

Pada suatu hari, menjelang malam nisfu sya’ban, Malik merencanakan sebuah pesta besar. Semenjak siang dia telah membawa berkrat-krat khamer. Nawaitunya waktu itu ketika kampungnya dalam keadaan sepi karena ditinggalkan warganya ke masjid,  ia akan menenggak minuman haram itu sepuas-puasnya.

Menjelang larut malam, setelah menghabiskan berkrat-krat minuman, ia tertidur dengan pulasnya dan bermimpi buruk. Dalam mimpinya ia berada dalam peristiwa kiamat. Seekor ular hitam yang sangat besar mengejarnya kemana pun ia berlari. Ia mencoba meminta pertolongan kepada seorang lelaki tua. Tapi, si lelaki itu pun menolak untuk menyelamatkannya.

Orang tua itu hanya bisa menangis meratapi nasib malang yang dialami Malik bin Dinar. Ia mengakui dirinya sangat lemah sehingga tidak mampu menyelamatkannya. Lelaki tua itu kemudian menyarankan Malik agar menuju ke sebuah gunung jika ingin selamat.

Di gunung inilah Malik kemudian diselamatkan oleh seorang anak perempuan yang ternyata adalah Fatimah, putri yang amat dicintainya. Dengan tangan kanannya Fatimah menyelamatkan sang ayah, sementara tangan kirinya mengusir ular raksasa tersebut.

“Wahai Ayah, ular itu adalah gambaran amal buruk yang selama ini Ayah jalani. Ayah telah membesarkan dan menumbuhkannya hingga hampir memakan Ayah sendiri. Tidakkah Ayah tahu, bahwa amal-amal selama di dunia ini akan berubah menjadi sosok tertentu pada hari kiamat? Dan lelaki tua yang lemah tersebut adalah amal saleh yang telah Ayah lemahkan hingga dia menangis karena  tidak mampu melakukan sesuatu untuk menyelamatkan Ayah. Seandainya saya tidak lahir dan seandainya saja tidak mati saat masih kecil, tidak akan ada seseorang yang bisa memberikan manfaat kepada Ayah,”seru Fatimah.

Ketika terjaga dari mimpinya, Malik pun kemudian menyadari akan segala kekeliruan menjalani hidup dan kehidupannya selama ini. Ia pun bertobat dan kemudian meguru kepada Imam Hasan al-Basri yang rutin mengajar tafsir di Masjid Basra. Di usianya yang tak lagi muda itu Malik bin Dinar belajar keras.  Saat Imam Basri meninggal dunia, ia pun kemudian melanjutkan jejak dari gurunya tersebut. Ya, Malik kemudiam menjadi guru tafsir di Masjid Bashra.

Kawan, jika Allah telah menurunkan hidayahnya, seorang preman pun bisa menjadi kiyai. Makanya, jangan sekali-kali menistakan kehidupan orang-orang tersesat itu, mereka masih memilki kesempatan untuk bertobat dan mengakhiri karier hidupnya dengan khusnul khatimah. Sebaliknya, kita mesti berhati-hati dengan segala prilaku kita hari ini. Kita sering bersikap sombong dan takabur dengan kesalehan hidup kita. Ingat, bisa saja terjadi, karena kesombongan kita sendiri lalu kita terseret ke dalam perbuatan tidak terpuji.  Seperti oknum petinggi yang saya ungkap di atas, kalau tidak cermat dalam meniti kehidupan, kita bisa saja masuk ke dalam kubangan perbuatan yang menghinakan diri kita sendiri.

Khususon untuk para ukhti yang sedang menjalin kasih atau ditaksir oleh seorang preman, harap bersabar. Haqul yaqin dan terus memohon kepada-Nya agar dia dibukakan pintu hidayah oleh Allah SWT sehingga bisa kembali ke jalan-Nya dan menjadi imam yang baik dalam rumah tanggamu.

Semoga Allah SWT senantiasa melindungi kita dari perbuatan yang dapat membawa kita ke jurang kenistaan dan kehancuran. Amien.

One Comment

  1. aamiin ya Rabbal’alamiin……..

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*