Dia Naksir, Saya Juga Cinta Berat, Tapi Adiknya Gila

DepresionSatu dekade berada dalam penantian. Alhamdulillah, tak dinyana tak diduga yang ditunggu-tunggu datang juga dengan sendirinya. Orangnya ganteng, baik, perhatian, dan sudah berpenghasilan tetap.  Kamu pun cinta berat kepadanya.

Siang dan malam, rasanya tak sekejap pun lepas dari bayangan dia, hingga pada suatu waktu kamu dibuat terperangah olehnya. Dia menyatakan keseriusannya untuk mengajakmu berlayar dalam satu  bahtera bernama mahligai rumah tangga.

Kamu pasti senang; lebih-lebih orang tuamu. Tapi tunggu dulu, permasalahan bibit tentunya menjadi pertimbangan ortumu, juga kamu. Maka diutuslah oleh orang tuamu seseorang untuk menjadi spy alias mata-mata guna mengetahui siapa sebenarnya dia? Dilalah kersaning Allah, kamu mendapat informasi  A1 dari sang Spy. Ternyata, adiknya yang nomor 2 mengidap Skizofrenia alias sakit jiwa. Rasa khawatir campur kecewa menggurat dalam pikiran kamu dan ortumu. Jangan-jangan penyakit ini dibawa juga oleh si dia lalu terwariskan kepada anakmu kelak.

Nah, sebelum kamu memutuskan menerima atau menolaknya, ada baiknya kamu memperhatikan uraian dr. Andri, SpKJ, seorang psikiater kenamaan dari ibu kota.

Menurut dokter spesialis kejiwaan ini, skizofrenia merupakan penyakit keturunan. Pada berbagai penelitian ditemukan adanya keterkaitan antara saudara sedarah yang mempunyai kondisi gangguan yang sama. Itulah sebabnya ketika dokter melakukan pemeriksan, biasanya akan bertanya tentang ada dan tidaknya keluarga pasien yang sedarah yang juga mengalami kondisi yang sama dengan pasien.

Jika ada gangguan yang sama di keluarga, apalagi jika ikatan sedarahnya cukup kuat, maka hal itu bisa menjadi indikasi terdapatnya faktor keturunan dalam kondisi sakit pasien. Adanya keluarga yang sedarah yang juga memiliki gangguan yang sama biasanya merupakan faktor risiko yang bermakna.

Pernyataan tersebut diperkuat oleh Kepala RSJ Kalbar, dr Rozalina, yang menyebutkan bahwa 60 persen pasien yang dirawat di RSJ Kalbar karena faktor keturunan. Skizofrenia adalah gangguan jiwa psikotik paling lazim dengan ciri hilangnya perasaan afektif atau respons emosional dan menarik diri dari hubungan antarpribadi normal.

Setelah membaca uraian singkat dr. Andri, SpKJ selanjutnya kamu mau bagaimana? Apakah akan tetap menerima dia apa adanya, dengan segala kelebihan dan kekurangannya plus latar belakang keluarganya? Haruskah kisah cintamu dengannya berakhir begitu saja?

Sangat dilematis. Saya sungguh faham dengan kondisimu saat ini. Besarnya rasa sayangmu kepadanya tiada bandingannya. Setiap keputusan yang kau jatuhkan memang mengandung dan mengundang konsekuensi yang sangat rumit. Oleh karena itu, berbicralah dengan kedua orang tuamu. Lalu,  tetapkanlah pilihanmu dengan kepala dingin.

2 Comments

  1. kasus.nya sama seperti yang saya alami …
    tapi yang gila paksenya ,apa itu juga berpengaruh ? 🙁
    . saya ngak tau harus bagaimana ..
    . tolong kasih saran ..

    trima kasih ….

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*