Cowokmu, Anak Mama-kah Dia?

Cowokmu, Anak Mama-kah DiaAda sejumlah pria yang dikategorikan sebagai seorang anak mama. Cowok-cowok ini terjerat dalam hubungan emosinal dengan ibunya melebihi batas kewajaran.

Jika si anak mama tersebut telah menikah, sang istrilah yang akan merasa banyak dirugikan. Ya, istri mana yang tak stres jika sang suami untuk urusan apa pun begitu bergantung kepada ibunya. Mulai dari urusan nafkah untuk anak istri, pakaian yang harus dikenakan, hingga urusan tetek bengek lainnya senantiasa menunggu persetujuan atau dukungan sang bunda. Tak pelak, hal ini akan menciptakan hubungan “cinta” segitiga di antara suami, mertua, dan istri. Ujung-ujungnya akan bermuara pada konflik tak berkesudahan di antara mereka bertiga itu.

Terdapat beberapa petunjuk yang dapat mengarahkanmu pada kesimpulan apakah cowokmu itu seorang anak mama. Tanda-tanda yang diamaksud, antara lain:

1. Ibunya Tak Pernah salah

Dalam pandangannya, ibunya selalu benar dan tak akan pernah melakukan kesalahan dalam hal apa pun. Pasal satu dalam undang-undang hidupnya berbunyi: “Tak akan pernah sekali pun ibu melakukan kesalahan.” Sementara itu, pasal dua mengatakan bahwa jika ibunya melakukan kesalahan maka dirinya harus melihat isi pasal satu.

2. Tidak mampu Mengatakan “Tidak”

Dia tidak bisa mengatakan “tidak” kepada ibunya sekalipun batinnya bertentangan dengan keinginan ibunya itu.

3. Akan Lebih Membela Ibunya daripada Kamu

Dia akan menghindari konfrontasi dengan ibunya. Dia akan memilih memarahimu daripada harus berselisih faham dengan ibunya itu. Seandainya terjadi konflik antara dirimu dan ibunya, dia akan lebih berat membela ibunya itu.

Jika dirimu saat ini sedang menyandang status jomblo dan sedang dalam proses pencarian pasangan, maka waspadalah terhadap ketiga tanda peringatan yang telah saya sampaikan di atas.

Bagaimana seandainya kamu sudah kadung terjerat tali asmara dengan seorang pria penyandang status anak mama tersebut? Pertama, kamu harus jujur terhadap dirimu sendiri. Bisakah kamu legowo dan sepenuh hati menerima dirinya dengan segala sifat anak mama-nya itu? Kedua, mintalah kesanggupan dirinya agar bersedia membuat skala prioritas secara proporsional antara memenuhi kepentingan  ibunya atau kepentingan dirimu.

Persoalan anak mama bukanlah menjadi kata final dan tak mengharuskan kamu mengakhiri hubungan dengan dirinya. Waktu akan berjalan terus. Semoga saja di kemudian hari dia menyadari bahwa sifat ketergantungan pada mamanya itu harus segera diubah. Semoga kamu bisa menjadi pembawa perubahan ke arah yang lebih positif bagi sang lelaki yang kamu cintai tersebut. Memang, untuk sebuah perubahan diperlukan ekstra kesabaran dan ketekunan. Selamat berjuang.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*