Cinta Berisiko Tinggi Holly Angela-Gatot

Cinta Berisiko Tinggi Holly AngelaMencermati tragedi cinta antara Holly Angela Hayu Winanti dengan Gatot Supiartono, saya hanya mampu mengucap istighfar berkali-kali. Ibarat membalikkan telapak tangan. Begitu mudahnya cinta berbalik menjadi benci. Ya, begitulah jadinya jika kita berani bermain api asmara berisiko tinggi.

Mengapa saya mengatakan berisiko tinggi? Sebagaimana diketahui, Gatot Supiartono adalah seorang PNS Pejabat Eselon I di BPK. Seorang PNS di manapun bertugas tak akan lepas dari Peraturan Pemerintah (PP) No. 10 tahun 1983. Dalam Peraturan Pemerintah tersebut jelas disebutkan tentang larangan bagi PNS untuk berpoligami. Harap diketahui bahwa PP ini sampai sekarang masih belum dicabut.

Lantas bagaimana sanksinya jika melanggar peraturan ini? Saknsinya sangat jelas yaitu bisa berupa penurunan pangkat hingga pemberhentian secara tidak hormat dari status PNS.

Ketika kita mengetahui tentang bahaya dibalik ancaman ini namun tetap memaksakan diri menikahi seorang PNS yang sudah beristri, maka bisa saja nasib kita tak jauh beda dengan kemalangan yang menimpa Holly Angela.

Istri sah dari seorang PNS secara adminstratif telah tercantum dalam catatan birokrasi kepegawaian. Jika kita menjadi istri kedua, jangan berharap hak kita akan sama dengan istri pertama. Status istri “ilegal” yang kita sandang, sejatinya menjadi beban bagi suami kita yang berstatus PNS tersebut. Dia yang sedang berada di puncak kariernya bisa jadi menggap kita sebagai ancaman terhadap kegemilangan karier yang sedang dinikmatinya.

Berkaca pada kasus pembunuhan yang dialami oleh Holly, tampaknya sang suami merasa mulai terancam kemulusan kariernya. Sebagaimana disampaikan oleh media, Holly mengancam akan melaporkan kepada atasan Gatot mengenai poligami yang dilakukan oleh suaminya itu. Berawal dari ancaman inilah kemudian Gatot merencanakan untuk menghabisi nyawa Holly. Ia kemudian menyewa beberapa orang guna memuluskan niat bejatnya itu.

Saya tidak bisa berbicara lebih jauh lagi mengenai tragedi ini. Yang jelas, setiap kisah cinta yang kita lakoni mesti berpasangan dengan risikonya sendiri-sendiri. Persoalannya, relakah kita melepas nyawa kita sendiri demi cinta nan berisiko tinggi? Silakan jawab dengan sejujurnya. Bagi saya, cinta memang butuh pengorbanan tapi jangan biarkan diri kita menjadi korban keganasan cinta.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*