Cantik

Dian SastroIseng-iseng saya buka google adwords sekedar untuk mengetahui seberapa banyak orang di berbagai belahan dunia ini yang terobsesi dengan kata cantik. Hasilnya? Sungguh luar biasa. Tak kurang dari sejuta manusia tercatat sebagai pencari kata cantik. Ini belum termasuk para pencari kata cantik dalam bahasa Inggris, Spanyol, Arab, Portugal, Jepang, Mandarin, Hindi, serta bahasa-bahasa lainnya.

Para perempuan begitu terbius dengan kata cantik. Mereka mencari berbagai cara agar tampilannya tetap cantik. Tengoklah bagaimana ratusan bahkan ribuan remaja puteri Korea yang memvermak wajahnya dengan cara bedah plastik. Terpuruk dalam kemiskinan bagi mereka belum masuk hitungan sebagai bencana. Tetapi, terlahir sebagai perempuan buruk rupa adalah sebuah kutukan.

Masih ingat dengan Inong Malinda Dee? Coba cari foto dia saat duduk di bangku SMA lalu bandingkan dengan wajahnya saat ini. Ooo…. Jauh bumi dengan langit. Berapa juta dollar dana yang telah digunakannya untuk mengubah seluruh tampilannya?

Untuk siapa para cewek berjibaku mengubah performance-nya agar cantik? Ya, buat siapa lagi kalau bukan untuk para lawan jenisnya: suaminya, gebetannya, bisa juga untuk lawan jenis yang gak bisa disebutkan secara spesifik. Bahkan,  bukan untuk siapa-siapa.

Secantik apa pun kadang perempuan masih diliputi perasaan sebagai si itik buruk rupa. Tidak sedikit yang terobsesi bisa tampil layaknya boneka Barbie. Mereka sulap hidung peseknya agar mancung tapi mungil, mata lebih lebar, bibir semakin seksi, payu dara besar, pinggul lebih padat dan berisi.

Ironisnya, faktor kesehatan dan keselamatan jiwa tidak menjadi prioritas utama. Puluhan ribu wanita di Amerika Latin, beberapa di antaranya figur publik, panik karena besar kemungkinan implan yang ditanam dalam payudara mereka tidak aman. Padahal untuk memperbesar buah dada harus keluar uang sedikitnya US$2.200.

Bila di Korea vermak wajah bisa menjadi hadiah istimewa seorang ayah kepada putri semata wayangnya, maka di Venezuela implan payudara sangat populer dijadikan kado ulang tahun ke-15 atau hadiah dalam penggalangan dana. Masyaallah!

Sedikit muak dengan pemberitaan implan payudara, karena itu saya coba cari sumber lain barangkali ada yang memiliki penafsiran berbeda dari kata cantik ini. Setelah rehat sejenak, perjalanan saya lanjutkan hingga tiba di gerbang blog milik Lori Deschene. Dalam kiasan sederhana, founder Tiny Budha ini menafsirkan kata cantik demikian mendalam.

Dalam penafsiran dia, tersenyum adalah perbuatan cantik. Tak ada perempuan tampak jelek saat tersenyum, katanya. Lebih lanjut Lori menyebutkan bahwa berada di antara orang-orang yang membutuhkan pertolongan pun merupakan tindakan cantik. Sekalipun kita tidak bisa melihat tanda-tanda yang menguntungkan, kita tetap ikhlas melakukan perbuatan mulia itu.

Daripada meratapi kenyataan sebagai si ugly duck lebih baik menciptakan energi positif melalui perbuatan-perbutan dengan tujuan positif pula, misalnya, menggubah lagu, mebuat blog, atau mendirikan sekolah nonprofit bagi anak-anak para pemulung, serta tindakan-tindakan yang bisa menginspirasi orang lain berbuat mulia. Itulah sebagian hasil renungan Lori dalam postingan yang diberinya judul 35 Simple Ways to Be Beautiful.

Sister, jodoh mungkin masih berada di ambang batas yang hanya Tuhan sajalah yang mengetahuinya. Saya setuju, jodoh memang perlu pemikat agar bisa datang menghampirimu. Namun demikian, daripada kamu mengurusi hal bersifat badaniah semata, agar cantik, lebih baik sibukkan dirimu dengan aktivitas seperti yang dipaparkan Lori Deschene di atas. Bukankah kata Sophia Loren: “Beauty is how you feel inside, and it reflects in your eyes. It is not something physical.”

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>