Zamzam

zamzamJumat, 18 April 2014. Suhu Kota Makkah yang terpampang pada indikator di Gerbang I Masjidil Haram menunjukkan angka 37 derajat celcius. Hawa panas sungguh menggigit siang itu.

Shalat jumat akan berlangsung dua jam ke depan tapi jamaah sudah membludak. Sebagian dari mereka memanfaatkan waktu luang itu dengan melakukan thawaf sunah. Tujuh putaran mengelilingi Kabah.

Jangan bertanya mengenai rasa haus yang kami rasakan. Saya kira semua jamaah sama dengan saya. Mereka merasakan keringnya tenggorokan.

Seorang jamaah dari Turki yang duduk berdekatan dengan tong air zamzam rupanya dapat membaca rasa haus yang kami rasakan. Diraihnya gelas-gelas plastik yang bersebelahan dengan tong air zamzam. Dituangkannya air itu ke dalam bejana-bejana tersebut.

Dengan dibantu oleh beberapa jamaah lain, gelas-gelas air zamzam pun di digeser secara estafet ke belakang. Jamaah dari Pakistan, Iran, India, Indonesia, serta jamaah lainnya yang tak saya ketahui kebangsaannya  serempak berdiri mengalirkan suplai air segar itu. Demikian aktivitas tersebut berlangsung nonstop hingga azan berkumandang.

Di rumah Allah itu kami bahu membahu untuk mengatasi rasa haus yang diderita sebagian besar saudara kami. Kami lupakan warna kulit kami yang berbeda. Kami lupakan madhab dan ras kami yang beraneka ragam.

Rasa haru tiba-tiba menyeruak begitu saja. Saya tahu betul bahwa bangsa India sedang tidak akur dengan bangsa Pakistan akibat ketidaksepahaman mengenai wilayah Kashmir. Tapi, siang itu mereka melupakan silang sengketa tersebut. Kedua bangsa tersebut saling membantu mengantarkan air zamzam hingga ke shaf belakang.

Saya kemudian teringat silang sengketa yang sering saya hadapi. Di rumah kadang ada friksi dengan istri. Demikian pula dengan tetangga kanan dan kiri. Betapa kami begitu egois. Tak saling sapa hanya karena masalah remeh temeh.

Tekad telah bulat. Setibanya di tanah air silang sengketa ini akan segera saya akhiri. Semoga  marwah kebersamaan di Masjidil Haram itu hadir pula dalam rumah tangga saya. Demikian pula dalam kehidupan bertetangga di kompleks perumahan kami. Saya rindu  marwah kebersamaan itu.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*