Ujian di Masjid Nabawi

Ujian di Masjid NabawiSelasa dinihari, 15 April 2014, Masjid Nabawi Madinah al-Munawarah mulai terlihat sibuk dengan jamaah yang sedang melaksanakan shalat malam. Di shaf tak begitu jauh dari Raudhah (tempat mustajab untuk berdoa), saya dan bapak saya menghikmati suasana tersebut sambil tadarus al-Quran.

Bacaan Quran baru saja mau beralih ke ayat yang lain, tapi terhenti oleh kedatangan seseorang. Dia duduk tepat di sebelah kanan saya. Menyapa dan memperkenalkan diri sebagai seorang mahasiswa Universitas Madinah. Tak lama kemudian anak muda yang mengaku berasal dari Palestina ini menangis tersedu-sedu. Berceritalah dia mengenai kesulitan yang tengah dihadapinya.

Ia sangat memerlukan Kitab Bukhari. Tapi keuangannya tak memungkinkan dirinya untuk dapat memiliki kitab tersebut. Di tengah sedu-sedannya, ia memohon kerelaan saya untuk menyisihkan sebagian dana yang saya miliki guna mengatasi kesulitan yang tengah dihadapinya itu.

Sebagai seseorang yang sering berhadapan dengan para kadal dan sering dikadali orang, tentu saja saya menahan diri untuk mengeluarkan uang. Terus terang, tak sedikit pun saya menaruh rasa iba terhadap orang yang baru saya kenal itu.

Beberapa lembar real memang saya kantongi, tapi jangan harap uang tersebut akan berpindah tangan kepadanya. Saya tak akan pernah tertipu.

Sejenak kemudian ingatan saya menerawang pada pengajian di mushala perumahan saya. Ustaz yang membimbing pengajian itu berkata bahwa ada kalanya keikhlasan kita diuji oleh Allah SWT melalui berbagai cara. Salah satu di antaranya adalah melalui kedatangan seseorang yang meminta sumbangan. Kita lebih sering menganggap orang yang ada di hadapan kita itu adalah seorang penipu. Kita menaruh syak wasangka kepadanya.

“Seandainya kita benar-benar tertipu, bagaimana dengan amal yang telah kita berikan kepadanya?” tanya saya.

“Nilai amal jariyah yang kita berikan kepadanya akan tetap tercatat sebagai amal jariyah. Kebaikan itu akan tetap kita nikmati faedahnya sekalipun jasad kita telah terpendam tanah,” demikian jawaban Pak Ustaz.

Termotivasi oleh jawaban Pak Ustaz, saya pun mencoba untuk melunakkan hati saya sendiri. Saya coba mereduksi rasa curiga kepada anak muda yang baru saya kenal tersebut.

Tangan saya merogoh kantung celana dalam-dalam. Selembar uang senilai 100 real pun kemudian beralih tangan kepadanya.

“Kurang”, katanya, “Buku Bukhari itu harganya 200 real.”

Saya pun kemudian menambahkan ke tangannya selembar 50 real.

“Masih kurang. Buku Bukhari itu harganya 200 real” ia pun mengulangi kata-kata yang tadi telah diucapkannya.

“Anda bisa mencari kekurangannya dari yang lain,” seru saya sambil menarik kembali lembaran 50 real.

Tak lama kemudian dia pun beranjak dari sebelah saya. Sebelumnya ia meminta kembali uang yang 50 real itu. Saya serahkan kembali lembaran tersebut.

Apakah saya lolos dalam ujian keikhlasan tersebut? Walallahualam bishawab. Yang pasti, setelah anak muda itu menghilang dari pandangan, saya pun kemudian menyesalinya. Mengapa tidak digenapi saja uang yang diperlukannya hingga 200 real. Siapa tahu dia memang benar-benar sedang kepepet. Sipa tahu dia memang benar-benar sedang memerlukan Kitab Bukhari itu.

2 Comments

  1. Sahabuddin Lasessu Husain says:

    Sebuah ujian tanpa tryout!

    InsyaAllah kisah ini menjadi referensi bagi teman-teman muslim yang akan menjadi tamu Allah.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*