Tipisnya Batas Cinta dan Benci

Love - HateGonjang-ganjing kasus penganiayaan yang dilakukan Hotman Paris Hutapea terhadap Meriam Bellina sedang menjadi topik hangat beberapa infotainment tanah air kita. Begitu ringannya stasiun televisi kita memaparkan tindak kekerasan pengacara flamboyan itu. Batas antara fakta dan rekayasa agak sulit dibedakan.

Saya tidak akan terlalu jauh bercerita tentang perseteruan tersebut. Saya khawatir akan terjebak dalam gossip dan ghibah murahan. Biarlah itu berlalu karena yang tahu pasti tentang kenyataannya hanyalah mereka berdua. Saya hanya akan berkisah tentang begitu tipisnya batas antara cinta dan benci.

Si fulan, kawan lamaku, setiap kali bertemu siapa saja selalu bercerita tentang bagaimana perhatiannya dicurahkan kepada Melati (nama samaran). Dia sedang jatuh cinta kepada teman sekampusnya itu. Tak ada seseorang yang melebihi kebaikan dan kecantikan gebetannya itu. Rasanya kuping ini sudah penuh sesak dengan segala sanjungan dan pujian buat dirinya. Ya, kemana pun fulan pergi, cerita tentang Melati selalu mengikuti.

Dua bulan setelah itu, saya dikejutkan dengan perubahan drastis si fulan. Bagaimana tidak, cerita tentang Melati kini berubah, penuh dengan tema kebencian. Tak ada sisi baiknya tentang Melati. Segalanya serba buruk dan jelek. Ke manakah perginya kisah lama tentang kelebihan Melati? Wallahu alam. Yang pasti, setelah itu saya mulai menjauh dari si fulan karena khawatir terjerumus dalam pergunjingan yang tiada habisnya.

Begitu tipisnya batas antara cinta dan benci. Barangkali itu sebabnya para tetua kita menasihati agar kita tidak sampai kedanan ketika mencintai seseorang. Bila kita habis-habisan ketika mencintai seseorang, yang dikhawatirkan, saat ada jalan yang menyebabkan perseteruan maka kebencian kita pun akan melebihi batas normal. Berikut contoh soalnya.

Di Solo, seorang pemuda warga Norowangsan, Pajang, Laweyan selama dua bulan menganiaya pacarnya hanya karena sang kekasihnya itu sering menyebut nama pacar lamanya. Akibat tindak kekerasan yang dilakukannya itu, sang pemuda harus rela menghabiskan hari-hari indahnya di balik jeruji penjara.

Beberapa waktu lalu Manchester United dipusingkan dengan kabar bahwa pemain mudanya Ravel Morrison berurusan dengan hukum. Morrison terancam dipenjara karena menganiaya pacarnya. Sebagaimana disebutkan oleh beberapa media Inggris, peristiwa penganiaayaan tersebut berlangsung satu hari sebelum Morrison membela United mengalahkan Chelsea di final FA Youth Cup. Akibat tindak penganiyaan pesepakbola berusia 18 tahun itu, sang pacar menderita luka cukup serius yang bisa menyeret pemain MU itu pada tuduhan perbuatan kriminal.

Begitu tipisnya batas antara cinta dan benci.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*