Ternyata, Kemuliaan Hidup Itu Bukan Dikarenakan Pangkat dan Jabatan

Kehormatan Itu Tidak Terletak pada Pangakat dan Jabatan yang Kita SandangRibuan orang berbondong-bondong mendaftarkan diri menjadi calon anggota legislatif. Berbagai upaya dilakukan, mulai dari memajang diri di baliho-baliho yang menyesakkan kota hingga tebar pesona di berbagai acara. Tujuannya hanya satu: pencitraan. Harapannya juga satu: terpilih sebagai wakil rakyat pada pemilu legislatif mendatang.

Dalam benaknya terbayang sudah bagaimana citranya akan melonjak saat kelak ditetapkan menjadai wakil rakyat. Betapa rasa segan dan penghormatan akan diterima dari segenap rakyat yang diwakilinya. Perempuan-perempuan cantik pun akan datang mendekat; tertarik dengan status sosial yang disandangnya.

Berbicara tentang penghormatan dan kehormatan, ustad yang membimbing pengajian di surau kami menyampaikan bahwa mahkota kehormatan kita itu sesungguhnya tidak terletak pada status sosial, pangkat, maupun jabatan yang kita sandang.

“Kehormatan itu terletak pada kemuliaan akhlak!” tegasnya.

Saya mengamini seratus persen apa yang disampaikan oleh Pak Ustad. Kenyataannya memang demikian. Di Boston, Amerika Serikat, Glen James seorang tunawisma mendapatkan penghormatan luar biasa. Ia menemukan tas berisi uang tunai US$2.400 (setara dengan Rp27,3 juta) dan Cek Perjalanan American Express senilai US$39.500 (sekitar Rp450 juta).

Tak sedikit pun Glen tergiur untuk mengangkangi harta yang bukan haknya itu. Dengan segala ketulusannya, dana bernilai ratusan juta rupiah itu kemudian diserahkan kepada polisi untuk diteruskan kepada pemiliknya.

Jutaan pernyataan simpati datang dari berbagai penjuru bumi. Ethan Whittington, seorang manajer akuntan asal Virginia, saking  tersentuh dengan kejujuran sang tunawisma itu, kemudian mengadakan penggalangan dana. Dalam tempo empat hari dana yang terkumpul telah mencapai US$118.000 atau sekitar Rp1,3 miliar. Beberapa warga lainnya mengapresiasi kemuliaan hati Glen dengan cara mendonasikan pakaian, komputer, makanan, serta kebutuhan pokok lainnya.

Itulah bukti nyata bahwa kemuliaan seseorang itu bukan terletak pada status sosial, pangkat, maupun jabatan, melainkan pada akhlaknya.

Coba bandingkan dengan para pesakitan KPK. Kurang apa mereka? Berlatar belakang pendidikan tinggi, menduduki jabatan sangat prestisius, bergelimang harta. Namun pada akhirnya nama besar mereka begitu compang-camping. Di sosial media “orang-orang terhormat” itu menjadi sasaran bully paling empuk. Harga dirinya luntur sama sekali. Derajatnya teramat sangat rendah bahkan jauh lebih rendah daripada seorang gelandangan sekalipun.

Maka dari itu, mari kita simpan saja mimpi indah tentang harta, nama besar, dan jabatan yang dapat menaikkan kemuliaan kita. Ternyata, itu semua tidak akan mengangkat harkat derajat kita selama kita tidak dapat menjaga kemuliaan akhlak kita sendiri.

One Comment

  1. Rafly Sumaga says:

    Betul bgt!

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*