Tepo Seliro

tepo seliroTahun lalu ipar saya diajak tetangganya untuk berkunjung ke saudaranya di luar kota. Karena acaranya sangat mendadak, ipar saya tidak sempat makan siang terlebih dahulu sebelum berangkat menempuh perjalanan panjang tersebut.

Celakanya, sang tetangga yang menyetir kendaraannya itu tidak menampakkan tanda-tanda akan mengajak ipar saya untuk beristirahat barang sejenak. Lebih-lebih untuk mengajaknya makan siang. Bisa dibayangkan bagaimana penderitaan yang dialaminya.

Ketika siang berganti malam, kedua tangan si tetangga itu pun masih kukuh memegang stir mobilnya. Saya hapal betul dengan derita yang dialami oleh ipar saya. Dia memang paling tidak bisa menahan rasa lapar. Konon katanya, ketika jarum jam menunjukkan angka 10, si tetangga itu barulah mau menepi lalu mengajak makan malam ipar saya.

Kita mungkin dengan mudah menyalahkan ipar saya. Mengapa tidak berterus terang saja bahwa dia belum sempat makan siang. Setelah itu, meminta kepada tetangganya untuk berhenti sejenak dan makan siang.

Kawan, setiap orang itu dilahirkan dengan intensitas rasa malu yang saling berbeda satu sama lainnya. Bagi sebagian orang mungkin begitu mudah untuk berterus terang, tapi tidak bagi ipar saya. Dia memang sangat pemalu.

Oleh sebab itu, sebaiknya kita mengukur kebutuhan itu bukan berdasarkan kepentingan diri kita sendiri. Dalam perjalanan misalnya. Jangan mentang-mentang kita kenyang lantas kita lupa terhadap teman seperjalanan yang barangkali belum sarapan atau tidak sempat makan siang. Jangan lupa bahwa teman seperjalanan juga perlu melaksanakan kewajiban beribadah. Alangkah baiknya jika kita memenuhi hak azasi teman seperjalanan kita.

Seseorang yang telah melakukan kebaikan di atas bisa dikategorikan ke dalam kelompok orang-orang yang ber-tepo seliro. Saya yakin, orang-orang seperti itu akan banyak temannya, bahkan, banyak yang memperlakukannya sebagai saudaranya sendiri.

Jika kita sedang memerlukan daya tarik pribadi untuk menarik banyak saudara, teman, bahkan untuk jodoh kita sekalipun, cobalah mulai hari ini belajarlah ber-tepo seliro. Belajarlah mengukur keperluan berdasarkan kepentingan orang lain. Hindari mementingkan diri sendiri. Insya Allah, resep ini amat manjur dan dijamin joss!

One Comment

  1. Ya, betul memang perlu tepo sliro, tapi kalau sudah lapar apalagi kalau punya sakit maag jangan malu-malu untuk mampir makan

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*