Teman Serumah Kami Kecoa dan Kodok

Teman Serumah Kami Kecoa dan KodokHidup tak selalu sesuai dengan impian. Ada kalanya kita berdampingan dengan orang-orang yang sejalan dengan keinginan kita. Tapi pada saat yang lain kita pun dipaksa untuk bersebelahan dengan orang-orang yang tak sejalan dengan keinginan kita.

Realita hidup itu ibarat kenyataan yang sedang kami hadapi di rumah pada musim penghujan ini. Kodok tanpa permisi tahu-tahu sudah bercengkrama di kamar mandi. Kecoa pun demikian. Harap maklum, kami berumah di kawasan mewah alias mepet sawah.

Tentu saja kehadiran para tamu yang tak diundang tersebut cukup menghebohkan seisi rumah. Istri saya hampir melompat dari kamar mandi. Beruntung dia tidak kepeleset sehingga insiden yang tak diharapkan pun tidak terjadi. Terus terang, kami semua merasa resah dan gelisah.

Urusan hama memang sangat gampang mengatasinya. Cukup dengan menggunakan sapu ijuk, kodok pun kemudian terusir dari rumah kami. Bagaimana dengan kecoa? Ah, cukup dengan semprotan cairan antiserangga, mereka pun selanjutnya menghilang entah ke mana.

Bagaimana mengatasi orang-orang yang tak sejalan dengan pikiran kita? Wah, untuk urusan yang satu ini tentu saja tidak segampang mengusir kodok dan kecoa.  Bagaimana kalau kita menyepi di hutan belantara saja? Itu pun tidak mungkin. Kita makhluk sosial yang saling bergantungan dan memerlukan kehadiran orang lain.

Soal mengatasi ketidaknyamanan? Ya, nikmati saja ketidaknyamanan itu. Toh tidak setiap saat kita bakutatap, pagilinggisik dengan orang-orang yang menimbulkan ketidaknyamanan tersebut.

Bisa jadi, sebenarnya kita pun sering menimbulkan ketidaknyamanan bagi yang lain. Makanya jangan egois. Pandai-pandailah bertoleransi.

Lagi pula, kalau ketidaknyamanan tersebut benar-benar menjadi ketidaknyamanan, betapa tersiksanya hidup kita. Melimpahnya karunia Tuhan tidak dapat lagi ternikmati secara optimal. Kita akan lebih banyak uring-uringan daripada mensyukuri limpahan rahmat-Nya.

Mulai hari ini hiruplah dalam-dalam napas kita. Berusahalah agar hati kita dapat berkompromi dengan segala ketidaknyamanan ini. Berat memang. Tapi, begitulah dinamika yang terjadi dalam kehidupan kita.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*