Ketika Berumah Tangga, Nyaris Tak Ada Harta Milik Pribadi

Ketika Berumah Tangga, Nyaris Tak Ada Harta Milik PribadiSelepas salat jumat, di halaman Masjidil Haram siang itu saya didatangi orang Arab. Jari tangannya menunjuk kopiah yang saya kenakan. Saya memahami betul maksud saudara baru ini. Ia menghendaki pertukaran tutup kepala.

Terus terang saya merasa sayang dengan kopiah yang saya kenakan ini. Di samping sebagai penanda kebangsaan di negeri orang, kopiah ini berada di tangan setelah melalui proses pemilihan yang cukup panjang. Hampir semua kios yang menyediakan perlengkapan ibadah di kawasan PGS Pasarturi dijajaki oleh istri saya hingga akhirnya dia mendapatkan kopiah yang pas di kepala sekaligus pas di hati saya.

Demi persaudaraan, sekalipun terasa berat, kopiah itu akhirnya berpindah kepala. Orang Arab itu tampak nyaman dan bangga dengan kopiah dari saya. Sementara saya sendiri merasa tidak nyaman dan tidak pede saat harus mengenakan kopiah khas Arab pemberiannya.

Demi persahabatan dan persaudaraan yang tulus, saya rela menyerahkan harta berharga milik pribadi.

Sekali waktu saya pernah kebablasan. Ceritanya, saya menerima sebuah jam tangan dari seorang teman yang baru saja kembali bertugas dari Lebanon. Jam yang sangat bagus dan mahal, tentunya.

Ketika rasa persahabatan dan persaudaraan kembali digelitik, dengan serta merta jam tersebut kemudian berpindah tangan. Apa lacur sesudahnya? Ternyata, istri saya telah mencanangkan jam tersebut sebagai hadiah bagi anak lelaki kami.

Saya merasa bahwa jam tangan tersebut adalah hak pribadi saya. Sebab, teman saya menyerahkan jam tersebut semata-mata hanya untuk saya pribadi. Jadi, kepada siapa pun jam tangan tersebut diberikan, itu semua merupakan hak preogatif saya pribadi.

Namun pada kenyataannya tidak semudah yang saya bayangkan. Ketika berumah tangga, tampaknya hak pribadi tersebut harus dibuat sedikit longgar. Yang ada adalah hak milik bersama segenap anggota keluarga. Dengan demikian, ketika timbul niat untuk memindahtangankan keepemilikan tersebut, kita wajib mendiskusikannya dengan anggota keluarga.

Mungkin di antara pembaca ada yang menilai saya sebagai sosok yang bego. Tak apalah, kenyataannya memang demikian. Saya anggap semua kejadian itu sebagai pelajaran paling berharga. Saya sangat menyesalinya.

Saya berjanji, setiap kali akan memindahtangankan benda milik pribadi, saya akan selalu mendiskusikannya dengan anggota keluarga saya.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*