Stigma Kesukuan, Stop!

Stigma Etnis, Stop!Pada suatu hari, ketika saya memperkenalkan diri bahwa saya berdomisili di Kota Makassar, lawan bicara saya tampak mengamati saya dari ujung rambut hingga ke telapak kaki. Selanjutnya, dia bertanya tentang tawuran antarmahasiswa yang kerap berlangsung di kota anging mamiri tersebut. Langkah berikutnya, dia mengernyitkan dahi seakan memberikan label bahwa saya adalah bagian dari oknum yang sering tawuran tersebut.

Ya, stigma sering dilontarkan kepada seseorang atau kelompok tertentu hanya dikarenakan oleh tayangan televisi. Chaos yang dimunculkan dan ditayangkan secara berulang-ulang di layar kaca itu rupanya sangat efektif dalam pembentukan opini masyarakat. Dan pascatayangan tersebut, tumbuhlah stigma bahwa masyarakat kota yang menjadi lokasi chaos tersebut berkarakter beringas, sulit diatur, pendukung berat premanisme.

Berulang-ulang saya ditelepon sanak saudara setiap kali terjadi kasus tawuran di kota tempat saya bertugas tersebut. Mereka semua mengkhawatirkan keselamatan kami sekeluarga. Seakan kekacauan itu benar-benar terjadi di seantero kota. Padahal, tawuran itu terjadi hanya dalam radius kecil saja dan dilakukan oleh hanya segelintir oknum. Tidak sampai satu kelurahan.

Jika kamu adalah bagian dari orang-orang yang begitu mudah melabelkan stigma kepada kelompok tertentu, saya mohon dengan hormat untuk menghentikan cara-cara tidak gentle tersebut. Tak ada kelompok etnis di seantero negeri ini yang mengajarkan falsafah hidup untuk menebarkan kebencian, lebih-lebih premanisme. Begitu juga dalam adat tradisi Bugis-Makassar. Saya justru banyak menemukan kearifan lokal dalam budaya kedua suku bangsa tersebut.

Informasi berharga tersebut saya peroleh dari K.H. Sanusi Baco sewaktu mengikuti pengajian yang rutin dipimpin Beliau di Masjid Raya Makassar. Menurut Beliau, rumah-rumah adat orang Bugis-Makassar senantiasa dilengkapi dua pintu dan dua tangga. Kedua pintu dan tangga itu masing-masing berada di depan dan di belakang rumah. Pintu dan tangga depan merupakan lambang keramahtamahan pemiliknya. Siapa pun akan dipersilakan untuk masuk bersilaturahmi dengan para penghuni rumah tersebut. Sementara pintu dan tangga di belakang rumah digunakan jika ada keperluan mendadak.

Orang Bugis-Makassar akan dengan serta merta menerima siapa pun yang singgah ke rumahnya dalam kondisi apa pun. Jika sang pemilik rumah kebetulan dikaruniai rizki berlimpah, maka tak segan-segan ia akan menghidangkan apa yang dimilikinya itu. Begitu di rumahnya tak ada sedikit pun yang bisa dihidangkan, ia akan pergi ke tetangganya sekedar untuk meminjam beras ataupun gula buat menjamu tamunya itu. Sang tuan rumah keluar mencari beras atau gula pinjaman melaui pintu dan tangga belakang.

“Inilah fungsi utama pintu dan tangga belakang rumah adat masyarakat Bugis-Makassar,” tegas Kiyai Sanusi Baco.

Jadi, marilah mulai hari ini kita menanggalkan semua stigma terhadap etnis tertentu yang beretebaran di muka bumi nusantara ini. Mari kita tolak segala bentuk rasdiskriminasi sosial. Tinggalkan semua rasa benar sendiri; hilangkan perasaan seolah hanya etnis sendirinyalah yang paling bermartabat. Mari kita pandang setiap suku bangsa, saudara-saudara kita semua, dari sudut pandang yang positif berkaitan dengan adat istiadat, kebiasaan-kebiasaan mereka.

Dalam urusan mencari jodoh pun, saya rasa kita harus menerapkan paradigma yang sama. Jangan lagi bersikap apriori terhadap suku bangsa tertentu. Jangan lagi menolak bakal jodohmu hanya dikarenakan dia berasal dari etnis tertentu. Mari kita hentikan semua label stigma berbau kesukuan. Mari kita tumpas benih-benih kebencian di antara kita.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*