Pesona Cinta ala Kucing Garong

Letupan Cinta ala Kucing GarongPasangan kucing garong itu benar-benar mengganggu istirahat siang saya. Ribut dan riweuh. Saling kejar, saling cakar. Kalaupun tidak berlarian, mereka bakutatap saling menggeram hingga menimbulkan polusi suara di kawasan gang sempit tempat tinggal saya. Ah, birahi mereka sedang memuncak rupanya. Sungguh sulit dipahami. Manusia yang sedang bergolak dengan nafsu syahwatnya, biasanya lebih rapat mengunci mulutnya. Silent Mission. Apalagi jika peristiwa asmara itu berlangsung di kalangan pasangan selingkuh. Tak akan terdengar suara seheboh pasangan kucing garong itu.

Sebelumnya saya selalu berprasangka buruk terhadap mereka. Saya kira kucing-kucing itu sedang bertengkar; saling mempersoalkan gossip yang berkembang di lingkungan sosialita para kucing. Rupanya saya telah keliru dalam menilai mereka. Ternyata, seperti itulah sunatullah-nya kucing. Jika mau kawin, mesti bikin geger seisi kampung.

Dan ternyata, ada juga sepasang anak manusia yang letupan asmaranya tak jauh beda dengan pasangan kucing garong. Alkisah, saya dan istri disambangi oleh seorang istri kerabat kami yang menangis tersedu-sedu karena perlakuan kasar suaminya. Dengan berlinangan air mata perempuan yang dikaruniai dua anak itu menguraikan secara terperinci tentang kekerasan yang telah dialaminya. Di ujung pembicaraan dia meminta saya untuk mengurus perceraiannya dengan suaminya yang sungguh kejam itu.

Saya kira semua masalah mesti ada solusinya. Jika mengambil perceraian sebagai sebuah solusi, tidak terburu-burukah itu? Semuanya masih bisa dibicarakan. Segalanya masih bisa didiskusikan. Makanya, beberapa hari kemudian saya memberanikan diri untuk menyambangi rumah kerabat saya tersebut. Niatan saya adalah mempertemukan keduanya pada sebuah meja perundingan untuk tujuan damai.

Tapi, sejenak sebelum tangan ini mengetuk daun pintu rumahnya, saya kemudian mengurungkan niat baik menjembatani rekonsiliasi di antara mereka berdua. Soalnya, dari suara-suara yang terdengar dari dalam rumah, tak ada sedikit pun tanda-tanda kalau mereka sedang berkonflik. Yang sampai ke telinga saya hanyalah candaan dan isyarat kemesraan di antara mereka berdua. Jadi, sudah bukan pada tempatnya lagi jika saya mengajak keduanya untuk saling bertenggang rasa dalam membina rumah tangganya. Toh, tanpa keikutsertaan saya, mereka telah rukun kembali seperti sediakala. 

Rupanya bukan hanya kucing saja yang tampak paciweuh dalam mengungkapkan letupan asmaranya. Manusia pun ada yang demikian. Inikah mungkin yang dinamakan pesona cinta ala kucing garong?

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*