Tips Mempercerah dan Memperkaya Kehidupan Kita

Setiap Orang Berpotensi Mempercerah dan Memperkaya Kehidupan KitaKata Jacob Oetama, setiap setiap orang yang kita temui memiliki peran dalam upaya mepercerah (enlightment) dan memperkaya (enrichment) kehidupan kita. Oleh sebab itu, jangan sekali-kali membentengi diri saat kita berkesempatan berbincang-bincang dengan orang-orang di sekeliling kita. Dengarkan saja apa yang mereka sampaikan. Renungkan. Lalu, yakini bahwa semua saran, petuah, dan pendapat yang disampaikannya itu pasti berguna bagi kehidupan kita.

Akhir-akhir ini memang tampak kecenderungan di antara kita, enggan menjadi seorang pendengar yang baik. Dalam pembicaraan kita cenderung menggiring lawan bicara agar sesuai dengan pendapat kita.

Tengoklah bagaimana para presenter talk show di televisi nasional kita yang begitu mendominasi pembicaraan. Pertanyaan yang dilontarkan kepada narasumber ujung-ujungnya dijawab oleh mereka sendiri agar sejalan dengan kesimpulan yang telah dipersiapkan sejak jauh hari.

Ketika ada narasumber yang dicitrakan negatif, sang presenter selalu memotong pembicaraan sang narasumber itu. Ia mencecar dengan pertanyaan-pertanyaan yang menyudutkan. Seakan-akan citra negatif itu dibiarkan terus melekat, bahkan bertambah kuat.

Mohon diketahui, sesungguhnya kita pun sudah mulai ketularan mereka. Jarang sekali kita untuk sengaja membuka pikiran kita. Kita jejali hati kita dengan prasangka setiap kali bertemu dengan seseorang yang menasihati kita.

Parahnya, bukan saja orang lain yang sering kita sudutkan. Orang tua sendiri pun kadang kita perlakukan demikian. Kita selalu berpikir bahwa orang tua dan kita hidup pada alam yang berbeda. Oleh karenanya, saran dan pendapat mereka kita yakini tidak akan cocok diterapkan pada zaman yang sedang kita jalani.

Padahal, mereka telah kenyang asam garamnya kehidupan. Mereka lebih kaya kaya pengalaman daripada kita. Mereka telah mempraktikan semua teori hidup dan kehidupan. Proses trial and error telah dijalaninya selama sekian tahun; jauh sebelum kita dilahirkan.

Mereka lebih berpengalaman daripada kita. Itu harus kita yakini. Jadi, pada tempatnyalah jika kita senantiasa memasang baik-baik mata, telinga, pikiran, dan hati kita saat mereka berbicara. Kalau orang lain saja patut didengar, lebih-lebih lagi orang tua kita.

Zaman boleh berganti, akan tetapi sikap takzim kita kepada kedua orang tua kita sejengkal pun janganlah bergeser. Alasan apa yang sangat mendasar sehingga menolak setiap petuah orang tua kita? Bukankah nasihat mereka mengandung potensi besar untuk mempercerah dan memperkaya kehidupan kita?

One Comment

  1. dita rahmadani says:

    jadii bagaimana kalo fikitan kita tidak sejalan . ? kasih masukan jga salah?

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*