Setelah Menikah, Akankah Ia Berubah?

marriage conflictSeharian ini saya banyak mengintip buku Sebelum Janji Terucap yang ditulis oleh Adriana S. Ginanjar. Di dalam satu bab-nya, secara khusus konselor pernikahan ini membahas tentang perubahan yang sering diharapkan oleh seseorang terhadap pasangannya kelak setelah pernikahan berlangsung.

Ya, selama ini mungkin kamu banyak melihat betapa ugal-ugalannya dia, sulit diatur, dan cenderung semau gue. Karena sudah kadung jatuh cinta kepadanya, kamu pun tetap bertahan dengannya. Dengan harapan, kelak bila janji suci sudah terucap dia akan berprilaku bak seorang malaikat.

Ah, jangan mimpi, ya! Pernikahan tak selamanya akan mengubah kedewasaan seseorang. Oleh karena itu, Adriana menyarankan agar kita selalu berpikir jernih dan tetap rasional dalam menentukan pasangan hidup. Cari tahu perilakunya selama ini dalam keluarganya. Bagaimana pandangannya tentang pernikahan. Pokoknya segalanya. Bila kamu telah mengetahui dan mau menerima dia apa adanya, itu artinya kamu telah bersedia hidup bersamanya.

Tanpa kematangan secara emosinal, pernikahan akan berjalan tanpa disertai tanggung jawab para pelaku pernikahan tersebut. Keduanya akan berjalan sendiri-sendiri. Bisa saja terjadi keburukan prilaku pasangan akan semakin menjadi-jadi. Perubahan baru muncul manakala kesadaran dalam dirinya terbit. Dan itu, sekali lagi, atas kesadarannya, bukan karena terpaksa. Bila karena terpaksa, maka perubahan itu hanya artifisial semata.

Masa-masa tiga tahun pertama pernikahan adalah saat yang penuh gejolak. Penyebabnya, sebagaimana dikemukakan oleh Adriana tadi, terlalu tingginya kita berharap akan terjadinya perubahan yang signifikan dalam pribadi pasangan kita. Begitu yang terjadi jauh panggang dari api, terkadang timbul keinginan untuk segera mengakhiri pernikahan. Mungkin ini sebabnya, tidak sedikit para pesohor, kaum sosialita di negeri kita tercinta yang bolak-balik kawin-cerai lalu kawin dan cerai lagi.

Mereka berharap dengan cara instan apa yang menjadi angan-angannya segera terwujud. Begitu pasangannya tak memenuhi harapannya, ia pun segera melenggang begitu saja.

Adriana mengingatkan bahwa semuanya butuh proses. Diperlukan waktu cukup panjang untuk bisa segera lepas dari etape saling memahami, saling menyesuaikan yang penuh konflik. Kelak bila sudah saling mengerti karakter masing-masing dan telah mengerti dengan keluarga besarnya barulah biasanya tercapai kesepakatan. Dari sinilah upaya untuk mencapai kebahagiaan dimulai guna menggapai kebahagiaan yang dicita-citakan bersama.

Jadi, jangan buru-buru minta cerailah kalau ada sedikit friksi di antara kalian. Ingat, begitu berpisah lalu memulai lagi dari awal dengan yang lain, ya kamu akan berhadapan dengan persoalan yang sama pula. Apa mau terus kawin cerai seumur hidup?

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*