Seribu yang Kita Berikan, Sejuta yang Kita Dapatkan

970325-N-4015M-003Likewise, early seafarers spoke of their ships in the feminine gender for the close dependence they had on their ships for life and sustenance. (Naval History and Heritage Command)

Seorang mantan komandan kapal perang berkisah tentang pengalaman masa lalunya. Konon saat itu ia menerima jabatan sebagai komandan untuk sebuah kapal perang yang bolak-balik mengalami musibah. Pernah terseret pusaran arus hingga kandas. Nyaris terjadi kebakaran di ruang mesin. Baling-baling kapal terlilit jaring nelayan. Anak buah kapal bolak-balik kena musibah. Pokoknya kapal perang yang diawakinya itu benar-benar jelmaan pembawa sial.

Tiga hari setelah upacara serah terima jabatan dilaksanakan, di ruangannya  sang komandan merenung. Ia mencari tahu sebab musabab karut-marutnya kehidupan di kapal tersebut. Kutukan apa yang pernah diterima sehingga tiba dalam kondisi seburuk itu.

Ketika membuka kembali buku referensi yang mengungkap tentang tradisi di kapal perang, barulah ia tersadarkan bahwa sesungguhnya sebuah kapal itu dipersonifikasikan sebagai seorang perempuan. Alih-alih disapa dengan kata ganti he atau his, sebuah kapal lebih umum disapa dengan kata ganti she atau her.  Itu semua merupakan bukti bahwa kapal mewakili sosok perempuan.

“Aha, sekarang aku dapat solusinya, kapal ini harus diperlakukan sebagaimana layaknya perempuan,” gumam sang komandan.

Perempuan adalah sosok yang demikian peduli terhadap perawatan tubuh. Sejak itu sang komandan mengajak serta anak buah kapal untuk mulai peduli terhadap kebersihan kapal. Jadwal pembersihan kapal pun kemudian ditingkatkan. Hampir setiap saat para perwira mengecek  kebersihan di lingkungan kapal. Tak ada sampah yang dibiarkan menginap. Pokoknya, dengan berbagai cara kebersihan benar-benar dijaga.

Di samping diperhatikan kebersihannya, kapal pun kemudian dipercantik tampilannya. Catnya yang telah kusam kemudian diganti agar tampak lebih menawan. Karat-karatnya dihilangkan. Penampilan kapal perang tersebut benar-benar telah berubah seratus delapan puluh derajat.

Perhatian berikutnya dialamatkan terhadap prilaku dan ucapan para anak buah kapal (ABK). Perempuan itu sangat sensitif. Oleh sebab itu, seluruh ABK diperintahkan untuk benar-benar menjaga lisan dan prilakunya masing-masing. Mereka benar-benar dilarang mengeluarkan kata-kata kotor, lebih-lebih melakukan perbuatan tidak senonoh.

Alhamdulillah, sejak saat itu kapal perang pembawa celaka tersebut mendapat penghargaan sebagai kapal teladan. Dalam setiap kompetisi artileri, kapal tersebut selalu menduduki ranking satu. Bidikan dan tembakan meriamnya tidak pernah meleset.

Jika personifikasinya saja menghendaki perlakuan sebagaimana mestinya, lebih-lebih lagi sosok aslinya. Maka dari itu, mari perlakukan perempuan sesuai dengan kodratnya. Semakin arief dalam memperlakukan perempuan, semakian besar cinta dan kasih sayangnya kepada kita. Sepuluh yang kita sampaikan, seratus yang kita terima. Seribu yang kita berikan, sejuta yang kita dapatkan darinya.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*