Sepucuk Surat Cinta yang Tak Pernah Sampai

Sepucuk Surat Cinta yang Tak Pernah SampaiKenangan zaman SMA tiba-tiba menyeruak begitu saja. Itu terjadi setelah saya menemui seseorang yang dulu sangat saya istimewakan. Lokasi pertemuan kami berada pada sebuah pojok bernama facebook.

Saya naksir berat dirinya. Tapi itu dulu, ketika dia mengenakan seragam abu-abunya. Dia adik kelas saya. Aktivitasnya seabreg. Di samping menekuni pramuka, dia juga tercatat sebagai anggota team kesenian sekolah kami. Dia piawai bermain angklung.

Sebagai seseorang yang bermental ayam sayur, saya hanya berani menyampaikan salam melalui dinding kamar mandi sekolahan.

“Titip salam buat L*** kelas 2 IPA 2” , begitulah bunyi pesan gelap tersebut.

Keesokan harinya tulisan di dinding kamar mandi itu telah dihapus oleh seseorang. Lebih tepatnya dikerok, mungkin dengan menggunakan ujung ballpen atau cutter.

Sehubungan dengan sering hilangnya tulisan di dinding kamar mandi itu, keesokan harinya saya membeli kertas surat lengkap dengan sampulnya. Kutulislah sebuah surat yang berisi curahan hati. Haqul yaqin, seandainya dibaca, surat itu menyebabkan dirinya mengawang di angkasa. Pilihan kata-katanya memang maut. Harap dicatat, waktu itu saya sering menulis puisi lalu dikirim ke sebuah radio swasta. Berkali-kali pula puisi saya masuk nominasi lalu dibacakan oleh penyiar yang juga merangkap sebagai penyair itu.

Sayang sekali, keterampilan yang saya miliki itu tidak didukung oleh keberanian. Surat itu tak pernah jatuh ke tangannya. Pernah sekali kami saling berpapasan di depan Perpustakaan Cikapundung. Saya sudah merogoh tas saya untuk mengeluakan surat cinta tersebut. Namun, sebelum tangan sampai menyentuh surat itu, keberanian tiba-tiba menghilang. Demikian seterusnya hingga saya meninggalkan bangku SMA.

Surat, kenangan, dan bayangan tentang dia hilang begitu saja dari ingatan saya hingga saya melamar seseorang lalu menjadi seorang bapak bagi anak-anak yang kini telah menginjak masa remaja. Dan akhirnya, saya menemukan dia kembali di facebook.

Maka kutulislah pemberitahuan singkat bahwa yang nitip salam buat dirinya di dinding kamar mandi sekolah tiga puluh tahun lalu adalah saya. Tanggapannya renyah. Konon katanya, pengakuan jujur saya itu telah dibahas dalam diskusi keluarganya. Respon yang muncul dalam diskusi tersebut hanyalah tertawa dan tertawa saja dari anak dan suaminya yang menjadi panelis dalam diskusi dadakan tersebut.

Sebaliknya, saya pun menjadikan peristiwa masa lalu tersebut sebagai bahan obrolan rileks semata. Alhamdulillah, tanggapan istri saya pun ringan-ringan saja. Kami memang biasa bakuungkap kenangan tempo doeloe..

Jadi, jangan takut mengungkap kembali masa lalu kita di meja makan saat bercengkrama dengan keluarga. Perbedaan zaman, insya Allah, tidak akan membawa kenangan tersebut ke puncak pertikaian dengan pasangan hidup kita. Mungkin itu lebih baik daripada membenamkannya dalam-dalam. Dengan catatan, kita menceritakannya kembali sebatas mengenang peristiwa sangat bersejarah itu. Jangan ikuti kata hati untuk melakukan napak tilas. Kalau itu yang dilakukan, saya tidak berani menjamin dengan keselamatan rumah tangga Anda. Don’t try this at home.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*