Saat Dihina, Sesungguhnya Kita Sedang Naik Derajat

Saat Direndahkan, Sesungguhnya Kita Sedang Dinaikkan DerajatDi Afrika Selatan Mahatma Gandhi pernah dicampakkan dari gerbong kelas satu oleh seorang kondektur padahal ia memegang tiket kelas satu kereta api tersebut. Barang bawaannya dilemparkan begitu saja hingga berserakan di mana-mana. Kesalahannya hanya satu: Mahatma Gandhi ditakdirkan sebagai seorang kulit berwarna. Bukan seorang kulit putih.

Menurut penganut politik apartheid, seorang kulit berwarna tidak berhak mendapatkan pelayanan kelas satu. Kulit berwarna hanya berhak untuk dilecehkan, dihina, dan disudutkan dalam pojok paling tidak berkeperimanusiaan dan tidak beradab sama sekali.

Bagaimana tindakan Mahatma Gandhi pascapelecehan itu? Apakah dia kemudian menyalurkan dendamnya dengan tindakan fisik? O, tidak sama sekali. Ia malah menganjurkan bangsanya untuk mengenyahkan kekerasan. Gandhi berkampanye untuk melawan setiap kezaliman dengan cara-cara yang lebih elegant. Bukan dengan tindakan angkat senjata melainkan dengan mengangkat nalar dan kepribadian.

Hingga akhir hayatnya Pahlawan Bangsa India ini dikenang sebagai sosok yang santun dan antikekerasan. Sikap inilah yang kemudian mengangkat derajat Gandhi.

Ada baiknya kita belajar dari keteladanan sang Mahatma ini. Ketika kita dihina, dilecehkan, dicampakkan, tak dipandang sebelah mata, dan dizalimi oleh seseorang atau oleh suatu kelompok tertentu, maka jadikan semua ketidaknyamanan tersebut sebagai energi pengungkit untuk meningkatkan derajat kita. Siapa pun memiliki peluang yang sama untuk menghina kita. Apakah itu gebetanmu, calon mertuamu, bahkan siapa saja.

Hinaan yang kita terima akan berdampak menjadi manfaat luar biasa jika kita bijak dalam menjalaninya. Jadikan hinaan dan celaan sebagai sebuah kekuatan untuk meningkatkan kepribadian kita. Gali ilmu sedalam-dalamnya. Belajar terus tanpa kenal lelah. Tingkatkan kinerja. Perkaya kepribadian kita dengan pengetahuan yang dapat membesarkan jiwa kita.

Pada suatu saat orang-orang yang telah merendahkan kita akan merasa keliru dengan sikapnya selama ini. Hati kecil mereka akan mengakui bahwa sesungguhnya mereka tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kita yang pernah dihina oleh mereka.

So, jika kita merupakan bagian dari orang-orang yang sedang mengalami hinaan dan perendahan martabat, janganlah berkecil hati. Manfaatkan saja itu sebagai sebuah peluang dan kesempatan untuk meningkatkan harkat dan derajat kita.

Ingatlah, orang-orang besar itu adalah mereka yang tabah menjalani setiap proses hinaan dan perendahan martabat. Mereka bangkit dari keterpurukan berkat kemampuan mengubah ketidaknyamanan itu menjadi energi pengungkit derajat mereka.

One Comment

  1. Walau umur msih muda ..mahu pun sudah tua ..kerja pe pun kita msti rajin brusaha untuk dpt kn rezeki yg halal ..pe pun kongsi dan hina oleh sekeliling kita …kita jgn peduli kn ..dan trus brdoa ..dan engati Allah ta’ala …hnye Allah sje yg mampu buat kita rasa bahagia,aman dan slamat ..

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*