Ridha Ilahi

Ridha IllahiSaat melaksanakan ibadah haji ataupun ibadah umrah, adakah di antara pembaca yang memiliki pengalaman sama dengan saya? Ketika bersujud, tiba-tiba kepala kita dilangkahi oleh seseorang yang berperawakan tinggi besar. Berdesakan saat melaksanakan thawaf sehingga terseret ke tepi atau ke tengah hingga menjauh atau mendekati Kabah.

Secara pribadi saya bisa memahami seluruh peristiwa itu. Saya menyadari bahwa orang-orang yang berada di sekeliling saya pada waktu itu memiliki niat yang sama dengan saya. Mereka sedang mencari rida Allah SWT. Oleh sebab itu, tak terbersit sedikit pun rasa marah kepada mereka. Alhamdulillah, saya masih bisa bersabar hingga tuntas menyelesaikan seluruh rukun umrah.

Jika saya bisa berlaku arif dan bijaksana, sesungguhnya kesabaran itu bisa saya terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Termasuk dalam kehidupan berumah tangga.

Idealnya, sepasang anak manusia yang dipersatukan dalam mahligai rumah tangga berprinsip dan berniat yang sama, yakni, mencari rida Ilahi. Jika saling memahami akan tujuan suci tersebut, insya Allah, masing-masing akan berlaku sabar. Dengan demikian, ketika timbul silang sengketa, itu semua akan terselesaikan dalam waktu tak lebih dari tiga hari.

Ya, rumah tangga yang dibangun dengan keikhlasan demi menggapai rida Ilahi, akan berisi kesabaran dan ketawakalan. Kita sadari bahwa segala yang dilakukan oleh pasangan kita semata-mata untuk hadirnya keridaan itu. Maka, ketika hati kita terusik; kalbu kita tersinggung, sebelum amarah itu datang kita akan cepat beristighfar.

Ketika kita berada di Tanah Suci, sikap toleransi dan sikap memahami itu begitu kaya dan hadir di setiap detik. Mengapa ketika kembali ke tanah air sikap positif itu seperti lenyap begitu saja dari kehidupan kita. Mari saling menyadari bahwa pada hakikatnya membina rumah tangga juga tetap berada pada koridoor sabar dan ikhlas. Itu semua kita lakukan demi menggapai rida Ilahi.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*