Penyesalan Selalu Datang Belakangan!

Pelari Baik HatiDi Photos That Shook The World saya temukan sebuah foto yang sangat menggugah nurani. Foto itu bercerita tentang seorang pelari elit dunia asal Kenya yang memperlambat laju larinya untuk membantu seorang pelari tunadaksa asal China yang nyaris pingsan karena dehidrasi. Mestinya, jika tetap mempertahankan kecepatan larinya, si pelari asal Kenya itu bisa menjadi juara pertama dalam perlombaan tersebut dan tidak kehilangan hadiah uang tunai senilai $10.000,00 atau sekitar seratus juta rupiah.

Kawan, sangat sedikit di antara kita yang rela berkorban demi kepentingan orang lain. Himpitan hidup dan hiruk pikuk persaingan telah menempatkan nurani kita terpojok dalam ketidakpedulian terhadap sesama.

Dalam urusan cinta pun demikian. Kita sering melupakan derita orang lain akibat segala perbuatan tidak terpuji kita. Sebenarnya kita tahu bahwa perempuan atau lelaki yang kita gandrungi itu telah bersuami atau telah beristri; telah punya pacar ataupun telah bertunangan. Tetapi, kita jauh lebih mementingkan kepuasan batin kita. Pokoknya gasak langsung! Yang penting segala keinginan kita bisa tersalurkan sehingga kita puas dibuatnya.

Jika kita adalah bagian dari mereka, ada baiknya belajar pada kerelaan berkorban si pelari asal Kenya tadi. Ia betul menyadari bahwa kemenangan tak akan berarti jika harus ada orang lain yang menderita. Jangan sampai kemenangan kita itu kemudian harus ditebus oleh rasa penyesalan yang berkepanjangan.

Jangan sampai kita mengalami nasib tragis seperti halnya Kevin Carter. Fotografer tersebut meraih uang dan ketenaran setelah foto jurnalistiknya terpilih sebagai pemenang anugerah Pulitzer pada tahun 1994. Hasil jepretan Kevin, bercerita tentang seorang anak balita Sudan korban konflik politik yang sedang menderita kelaparan.

Kevin CarterSeperti tampak pada foto di atas, anak tersebut di samping berada dalam bidikan sang malakal maut, juga sedang berada dalam intaian seekor burung pemakan bangkai. Begitu anak tersebut mati, maka si burung pun akan segera berpesta pora menikmati santapannya itu.

Entah mengapa, beberapa saat setelah menerima hadiah Pulitzer itu, Kevin Carter pun melakukan bunuh diri. Adakah tindakan tersebut dilatarbelakangi rasa penyesalan yang sangat mendalam akibat tidak berusaha menyelamatkan anak tersebut? Hanya Allah yang bisa mengetahui segalanya.

Saya masih teringat petuah guru ngaji saya dahulu. Menurut Beliau, sejahat-jahatnya manusia, pada akhirnya akan sampai pada perasaan menyesal. Sebab, setiap manusia dibekali oleh Allah sifat hanif. Sifat tersebutlah yang menjadikan hati kecil kita akan diliputi rasa menyesal setelah menyadari segala kesalahan yang telah kita perbuat.

Nah, jika kalian masih saja melakukan tindakan perselingkuhan atau sedang berusaha merebut pacar atau tunangan orang, semoga bisa mencamkan kata-kata guru ngaji saya tadi. Semoga bisa menarik hikmah dan pelajaran dari kisah pelari Kenya dan Kevin Carter si peraih anugerah Pulitzer.

Dan sebelum kata menyesal terucap; sebelum rasa berdosa mampir dalam mimpi burukmu, maka hentikan semua perbuatan tidak terpuji itu sekarang juga. Harap dicamkan bahwa penyesalan itu tidak pernah datang mendahului melainkan selalu tiba di kemudian hari.

2 Comments

  1. Mahluk Tuhan Paling Seksi says:

    Petuah ini menjadikan saya semakin yakin untuk menjalani lembaran baru dalam hidup saya….

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*