Pelajaran Sabar dari Nabi Khidir

Pelajaran Sabar dari Nabi KhidirKetika Allah SWT mengingatkan Nabi Musa AS bahwasannya ada seseorang yang lebih alim dari dirinya, Nabi Musa pun seakan tersentak dari lamunannya.

“Kalau memang ada yang lebih alim dari saya, akan saya sadap ilmunya. Kemana pun dia pergi atau di mana pun dia berada.” Begitulah kesanggupan yang disampaikan Nabi Musa kepada Allah SWT.

Maka dicarinya segala petunjuk dan isyarat untuk menuju hasil akhir pencariannya terhadap orang yang lebih alim dari dirinya itu. Lalu, setelah sekian lama menjalani proses pencarian, bertemulah sang nabiyullah ini dengan seseorang yang selama ini dicarinya. Orang tersebut tak lain dan tak bukan adalah Nabi Khidir AS.

Ketika Nabi Musa menyampaikan itikadnya untuk ngangsu kaweruh kepadanya, Nabi Khidir menyangsikan kesabaran Musa. Dan semua itu terbukti serta sangat beralasan. Diriwayatkan, dalam sebuah perjalanan Nabi Khidir mendapat tumpangan kapal secara cuma-cuma alias gratis. Entah apa yang menjadi alasan, tak dinyana dan tak diduga, Nabi Khidir kemudian merusak kapal itu dengan cara menarik sepotong papan pada lambung kapal itu sehingga berlubang karenanya.

Melihat laku tidak simpatik tersebut, Nabi Musa pun kemudian protes. “Sampeyan itu bagaimana sih? Sudah mendapat kemudahan berupa tumpangan gratis bukannya berterima kasih sama pemilik kapal. Ini malah kapalnya dirusak. Karep Sampeyan sebenarnya apa?” Tanya Nabi Musa dengan sewot.

“Nah, benar kan apa yang saya katakan. Kamu itu memang tidak sabaran, Wahai Musa!” seru Nabi Khidir.

Menyadari kekeliruannya, Nabi Musa pun kemudian meminta maaf.

Demikan perjalanan berlangsung dan peristiwa demi peristiwa datang silih berganti. Di antaranya, ketika bertemu dengan sekelompok anak yang sedang bermain, Nabi Khidir menarik kepala salah satu dari anak tersebut hingga tewas. Peristiwa ini pun kemudian mengundang protes Nabi Musa.

Pada perjalanan selanjutnya, ketika tiba di suatu kampung Nabi Khidir meminta kepada penduduknya agar menjamu dirinya dan Nabi Musa, namun tak seorang pun yang sudi menyajikan makanan kepada keduanya. Saat melanjutkan perjalanan, di tengah kampung itu mereka berdua mendapati sebuah rumah dengan kondisi dinding pagarnya dalam keadaan roboh. Dengan kedua tangannya Nabi Khidhir menegakkan dinding tersebut.

Kembali nabi Musa pun menunjukkan sikap protesnya. “Mestinya Sampeyan minta imbalan kepada penduduk kampung atas jerih payah Sampeyan menegakkan dinding rumah tadi.”

Menanggapi protes Nabi Musa, Nabi Khidir pun berkata, “Di tempat inilah kita harus berpisah. Ternyata kamu tidak bisa berlaku sabar, wahai Musa. Dan sebelum kita melanjutkan perjalanan masing-masing akan saya jelaskan tentang alasan saya melakukan tindakan yang diprotes olehmu.”

Selanjutnya Nabi Khidir menguraikan semua alasan yang melatarbelakangi seluruh prilakunya sebagaimana termaktub dalam QS. Al Kahfi: 79-82:

“Adapun kapal itu adalah kepunyaan orang-orang miskin yang bekerja di laut, dan aku bertujuan merusakkan kapal itu, karena di hadapan mereka ada seorang raja yang merampas setiap kapal. Dan adapun anak muda itu, maka kedua(orang tuanya)nya adalah orang-orang mukmin, dan kami khawatir bahwa dia akan mendorong kedua orang tuanya itu kepada kesesatan dan kekafiran. Dan kami menghendaki, agar Tuhan mereka mengganti bagi mereka dengan anak lain yang lebih baik kesuciannya dari anaknya itu dan lebih dalam kasih sayangnya (kepada ibu bapaknya). Adapun dinding rumah adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang saleh, maka Tuhanmu menghendaki agar mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari Tuhanmu; dan bukanlah aku melakukannya itu menurut kemauanku sendiri. Itulah tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya”.

Kawan, sesungguhnya protes yang dilakukan oleh Nabi Musa pada galibnya sering pula kita lakukan. Ketika jodoh sudah di ambang pintu, tiba-tiba semua rencana untuk menjemputnya berantakan di tengah jalan. Kita pun berteriak. Rentetan doa berubah menjadi semacam penghakiman terhadap Tuhan. Kita pun bertanya-tanya mengenai ketidakadilan ini kepada-Nya.

Mengapa Tuhan begitu pilih kasih. Orang lain begitu banyak diberi kemudahan oleh-Nya. Mereka dientengkan jodoh, sementara kamu jangankan diberi, ditampakkan bayangan jodohmu pun tak! Pertanyaan itu sering mengganggu pikiranmu.

Jika kamu merupakan sebagian dari orang yang selalu menghujat Tuhan seperti itu, mulailah menghentikan semua pertanyaan tidak patut tersebut. Segere mohon ampunan-Nya. Yakinilah bahwa bukan tanpa alasan Tuhan melakukan semua kejadian yang menimpamu. Dan yakini pula bahwa itu semua terjadi demi kebaikanmu.

Marilah kita mulai menjalankan sikap sabar agar tidak timbul penyesalan seperti halnya Nabi Musa AS. Bukankan Allah SWT telah berfirman bahwasannya Dia senantiasa bersama orang-orang yang sabar.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*