Panaik

PanaikDua tahun menjalani tugas negara di Makassar membawa saya bertemu kembali dengan seorang sepupu jauh. Ini berita gembira tentunya. Puluhan tahun hilang kontak dengan dia. Nyaris, kepaten obor.

Ade, sepupu jauh saya itu, telah lima tahun berkelana di Bumi Anging Mamiri. Ia membuka warung bakso di kawasan Sudiang, Biringkanaya. Lumayan, dari hasil jerih payahnya ia bisa menabung dan membantu sanak saudaranya di Singaparna, Tasikmalaya.

Pemuda berperawan krempeng ini telah menguatkan tekadnya untuk bergelut hidup hingga mati di Makassar. Tak ada niat untuk balik kucing, kembali ke kampung halamannya. Ayahnya meninggal dunia ketika Ade masih dalam kandungan ibunya, sementara ibunya berpulang saat ia masih duduk di bangku sekolah menengah. Dengan demikian, tak ada alasan bagi dirinya untuk menetap di kampung halamannya lagi.

Dari waktu ke waktu saya perhatikan koleksi rambut keperakannya makin bertambah. Di samping dikarenakan faktor usia, bisa jadi penyebab utama kian berjibun ubannya itu adalah pusingnya mencari pasangan. Berat, katanya. Manakala berniat mempersunting seorang gadis Bugis-Makassar, seorang lelaki harus berhadapan dengan sebuah tembok besar nan kokoh. Tantangan itu bernama uang panaik. Nilainya puluhan juta, bahkan bisa mencapai ratusan juta. Sesuai dengan status sosial yang disandang oleh perempuan yang hendak dinikahi.

Untuk mendapatkan uang sebanyak itu, tentu bukan perkara gampang bagi Ade. Modal yang diputarnya belum sampai pada angka puluhan juta rupiah. Harga-harga bahan pokok di Pasar Terong Makasasar beringsut dari waktu ke waktu. Akibatnya, bisnis bakso Ade pun lebih sering banyak surutnya. Uang panai? Ah, masih belum terbayangkan.

Dan rupanya perkara uang panaik itu bukan menjadi beban bagi para lelaki kaum pendatang saja. Para pemuda Bugis-Makassar pun masih banyak yang berhadapan dengan problema tersebut. Rais, salah satu di antaranya. Alumni SMK 3 Lembang, Kecamatan Ujung Loe, tahun 2007 silam ini pun harus memupus niatnya mempersunting Risna, kekasihnya, karena tidak bisa memenuhi uang panaik yang diajukan oleh calon mertuanya.

Ketegaran Risna yang hadir dalam pesta pernikahan Rais akhirnya rubuh jua. Ia menangis tersedu-sedu di dalam pelukan sang mantan. Foto dan video peristiwa mengharukan itu menjadi trending topik di berbagai sosial media.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*