Negative Thinking, Positive Thinking, dan Jodoh

Negative Thiking, Positive Thinking, dan Jodoh“Orang-orang yang negative thinking, jarang tertipu, tapi rejeki juga jarang berlebih.. Orang-orang yang positive thinking, mungkin sering tertipu, tapi rejeki tak henti-henti mendatanginya..Yang Pas: Positive thinking dengan Waspada, bukan curiga. Buktikan dengan data & fakta, bukan prasangka..” (Jaya Setiabudi)

Setelah belajar berprasangka baik kepada Tuhan, berikutnya mari kita belajar berprasangka baik kepada sesama insan. Sebagaimana disampaikan penulis buku Kitab Antibangkrut dan The Power of Kepepet, Jaya Setiabudi, ketika terperosok ke dalam jurang negative thinking, sesungguhnya kita sedang menggali kuburan buat kita sendiri.

Orang-orang ber-negative thinking tidak akan berani berbuat banyak. Terlalu banyak perhitungan. Sehingga hal yang sederhana pun menjadi begitu rumit ketika berada di tangannya. Maka rezeki pun kian menjauh dari kehidupannya. Harap diingat, jodoh juga termasuk bagian dari rezeki yang Tuhan turunkan kepada kita.

Menjadi orang grapyak terhadap kehidupan; welcome terhadap siapa pun, memang berisiko besar. Tidak semua insan yang hadir dalam kehidupan kita senantiasa membawa misi damai bagi diri kita. Mungkin kita sering tertipu oleh mereka. Tapi begitulah tantangan hidup. Bagaimanapun, semua kegagalan yang diakibatkan oleh ke-grapyak-an  terhadap kehidupan bisa mengajari kita tentang banyak hal. Dampak langsung yang dirasakan berupa kian tebalnya pengalaman kita.

Coba bandingkan dengan orang-orang yang bawaannya itu selalu curiga. Mereka memang nyaris selalu selamat dalam menapaki kehidupan. Tapi miskin pengalaman. Ia jarang panen dan tak begitu banyak memetik hasil dari kehidupan yang dijalaninya.

Kembali ke kutipan status Jaya Setiabudi di atas. Kita memang harus mencegah diri dari sifat negative thinking dan terbebas dari bawaan curiga. Harus selalu menerima siapa pun dengan tangan terbuka. Sebab cara itulah yang bakal mendekatkan diri kita terhadap hadirnya jodoh, salah satu jenis rezeki yang Tuhan turunkan kepada kita.

Namun demikian, segalanya harus terukur dengan parameter yang jelas. Takarannya bukanlah curiga melainkan sikap waspada. Kita harus menyertakan fakta dan data ketika berhadapan dengan seseorang. Kita mesti menelaah dengan dasar setumpuk bukti, data, dan fakta. Bukan curiga!

Itulah jalan yang selayaknya kita tapaki. Memang penuh onak dan duri, tapi sangat mendekatkan pada kesuksesan. Termasuk di dalamnya kesuksesan kita dalam menuai jodoh idaman yang selama ini kita impikan.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*