Kewajiban Menafkahi Anak dan Istri

empat sehat lima sempurnaHalooo…. Apa kabar? Semangat untuk mengejar jodohmu masih terus menyala, bukan? Hari ini saya mendapat anugerah terindah dalam hidup saya karena seorang petinggi di republik ini mengajak saya jadi panitia pernikahan anaknya. Sebagai seorang yang bukan berasal dari trah Jawa, saya merasa kagum sekaligus kaget menyaksikan tingkat kompleksitas pernikahan adat Jawa. Lihat saja deretan acaranya: ada pasang bleketepe, siraman, midodareni, dodol dawet, panggih, dan sebaginya.

Di balik njlimet-nya acara itu, saya benar-benar trenyuh manakala menyaksikan sang ayahanda mempelai putri melakukan suapan akhir buat putri terkasihnya. Katanya sih, prosesi tersebut melambangkan bahwa sang ayah setelah itu akan menyerahkan tanggung jawab menafkahi anaknya kepada sang menantu alias suami dari anaknya. Artinya, setelah itu lepaslah kewajiban sang bapak memberi sandang, pangan, dan papan kepadanya.

Bagaimana jika setelah itu anak yang menikah ternyata masih menjadi beban bapaknya? Lebih-lebih juga jika sang menantu turut mendompleng makan kepada mertuanya. Wah, kalau begini caranya mungkin sang mempelai pria harus merevisi niat nikahnya.

Prosesi suapan akhir yang saya perhatikan, justru jelas menggambarkan tentang wajib hadirnya sikap berdikari para mempelai –terutama mempelai pria– bila telah menyandang status suami-istri. Setelah prosesi pernikahan semestinya mereka harus bisa hidup mandiri; tidak lagi menjadi beban kedua orang tuanya. Caranya bagaimana? Ya, harus sekuat tenaga mencari cara dan upaya agar bisa berpenghasilan. Utamanya bagi sang suami, harus berusaha seoptimal mungkin agar anak istri ternafkahi jiwa dan raganya dengan asupan halal.

Harap diketahui bahwa selama periode Januari hingga Juli 2011, angka perceraian yang ditangani Kantor Pengadilan Agama (PA) Kabupaten Cianjur tercatat mencapai 578 kasus. Dari jumlah tersebut sekitar 80 persen merupakan gugat cerai yang diajukan pihak istri.

Mengenai penyebab terjadinya gugatan perceraian, paling banyak perkara yang ditangani PA karena faktor ekonomi. Sedangkan di luar faktor ekonomi, seperti persoalan batiniah ada beberapa perkara tetapi jumlahnya tidak banyak.

Dari pernyataan di atas bisa disimpulkan bahwa pemenuhan nafkah atau kebutuhan ekonomi oleh seorang suami begitu memegang peranan penting dalam kehidupan berumah tangga. Ya, tanpa nafkah yang mencukupi bagaimana kehidupan anak dan istri bisa terjamin kualitasnya?

Para suami/ para calon suami, marilah kita menoleh kembali pada prosesi suapan yang saya jelaskan tadi di atas. Itu semua merupakan simbol ikhlasnya Bapak Mertua Anda menyerahkan wewenang dan tanggung jawab menafkahi anaknya lahir dan batin kepada Anda semua. Jangan nodai prosesi suci itu dengan menelantarkan anak dan cucunya pada hari kemudian. Tolong dicamkan, ya?!

One Comment

  1. Bagaimana hukumnya bagi seorang suami yg selama menikah tdk rutin / jarang memberi uang belanja kpd istri bahkan cenderung sang istri yg selalu menghandle / mencukupi kebutuhan rumah tangga mereka & sang suami jg tdk pernah memberikan waktu yg cukup buat istrinya. Bahkan lalu pergi meninggalkan istrinya selama 7 bln tanpa memberi nafkah lahir & bathon. Dan suamipun berkeinginan utk tdk melanjutkan rumah tangga lagi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>