Catatan Perjalanan dari Kelud

Munir 2

Foto: Kopral Munir

Selasa 18 Februari 2014, saya masih berdiri di atas hamparan pasir ketika sinar matahari masih tampak segan menyapa para pengungsi. Di Desa Pandansari, Kecamatan Ngantang, Kabupaten Malang tak ada bangunan utuh serta layak disebut sebagai tempat tinggal lagi. Rumah-rumah tak beratap. Genteng, asbes, kaca, hancur digerojok material erupsi Gunung Kelud.

Di reruntuhan sebuah rumah, saya hanya mendapati sebuah bingkai berisi foto sepasang pengantin. Tak ada harta yang tersisa dari puing bangunan ini, kecuali bingkai itu yang masih setia melekat pada gedek bambu.

Munir 4

Foto: Kopral Munir

Pasir, kerikil, dan debu menghampar sepanjang jalan yang saya lewati. Beberapa orang tampak masih bertahan di rumahnya yang telah porak poranda. Para petani lugu itu merasa tak tega meninggalkan sapi peliharaannya. Padahal kami telah berkali-kali membujuk mereka untuk segera meninggalkan kawasan berbahaya itu. Mereka tetap bergeming dengan pilihannya tersebut.

Musibah datang ketika tanaman penduduk desa siap untuk dipanen. Ketika sapi-sapi sedang berlimpah susunya dan siap untuk diperas. Musibah itu datang dengan tiba-tiba.

Seperti halnya penduduk Pandansari, musibah pun sewaktu-waktu senantiasa datang dalam kehidupan kita. Semua di luar rencana. Tanpa permisi dan mengetuk pintu terlebih dahulu.

Munir 3

Foto: Kopral Munir

Musibah, seperti disebutkan seorang relawan, sekedar gronjalan kendaraan yang kita tumpangi saat melewati polisi tidur. Tak lebih dari itu.

Musibah hanyalah peringatan agar kita tidak terlena dengan jalan hidup yang sedang ditempuh. Agar tersadarkan sehingga dapat segera beralih ke jalan lurus yang telah Tuhan tunjukkan.

Tak terkandung azab di dalamnya. Sebab, sebagaimana disampaikan oleh kawan relawan saya, musibah adalah bentuk kemaharahiman Tuhan juga.

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*