Mimpi itu Harus Dijalani

Mimpi itu Harus DijalaniKemarin saya berbincang dengan istri saya mengenai rumah yang kami tempati saat ini. Sebuah rumah yang sederhana. Kalaupun dikatakan “mewah”, itu semata-mata dikarenakan letak rumah tersebut yang memang mepet sawah.

Sekalipun sederhana, sungguh itu merupakan sebuah keajaiban. Jika diukur secara saksama dengan pendapatan saat ini, rasanya mustahil kami bisa mendapatkan rumah tersebut. Apalagi pada waktu itu. Pendapatan saya selaku seorang pegawai rasanya tidak sebanding dengan biaya yang harus kami keluarkan untuk memperoleh rumah tersebut. Tahun pertama mencicil rumah adalah masa-masa tersulit kami.

Rumah tersebut berawal dari sebuah mimpi kami selaku pasangan muda yang mendambakan sebuah tempat berlindung dari rintik hujan dan teriknya sinar matahari. Tinggal terus menerus di rumah kontrakan, rasanya seperti membuang-buang uang saja. Apalagi jika masa jatuh tempo pelunasan uang kontrakan itu sudah tiba, rasanya seperti menjadi buron polisi.

Dengan berbekal uang pinjaman dari bank, kami memberanikan diri untuk mulai menjalani mimpi kami: memiliki sebuah rumah. Pinjaman tersebut di samping diperuntukan uang tanda jadi, juga kami gunakan sebagai uang muka dan cicilan pertama kredit pemilikan rumah (KPR).

Ketika kunci rumah telah berpindah tangan dari pengembang kepada kami. Situasi itu tidak kami sia-siakan. Diawali ucapan “Bismillah”, rumah itu kami tempati. Dindingnya belum diplester. Gentingnya banyak yang pecah. Kayu penyangga wuwung melengkung sehingga atap siap rubuh. Tapi, kami tetap bertahan dalam rumah kami.

Setiap membuka pintu, kami harus ekstra hati-hati. Sebab jika salah teori, bisa jadi pintu bisa lepas lengkap beserta kusennya.

Dua per tiga pendapatan kami per bulan digunakan untuk cicilan rumah. Ini sangat menyalahi advis para penasihat keuangan. Mereka mengatakan bahwa dari penghasilan per bulan itu hanya boleh dipakai sepertiganya untuk menutupi hutang dan cicilan.

Betul yang dikatakan oleh mereka. Karena melawan ketentuan tersebut, saya dan istri sering merasa kelimpungan untuk bisa bertahan hidup. Dan ketika anak pertama lahir, tingkat kelimpungan itu semakin meningkat. Krisis moneter melanda negeri ini, sementara kami harus menyiapkan biaya ekstra buat membeli susu anak pertama kami yang harganya tiba-tiba meroket.

Namun seiring berjalannya waktu, nilai cicilan itu terasa semakin ringan. Tentu saja demikian, sebab besarnya uang cicilan berbanding lurus dengan nilai inflasi. Hari ini adakah bank atau pengembang yang menetapkan cicilan dua ratus ribu rupiah per bulan? Mimpi kaleee.

Ya, memang mimpi itu harus dijalani. Jika kita terus menaksir beban dan pengorbanan dalam meniti mimpi itu, kapan impian itu dapat terwujud?

Seandainya terus menerus menimbang beratnya risiko yang dihadapi untuk mendapatkan rumah, mungkin hari ini saya beserta istri juga anak-anak masih tinggal di rumah kontrakan.

Hingga hari ini saya masih setia menasihati diri untuk selalu berani memulai, merintis, dan menjalani setiap mimpi saya sendiri. Nasihat tersebut saya tularkan pula kepada anak dan istri.

Saya yakin, tanpa keberanian memulai dan menjalani, mimpi itu akan tetap sekedar menjadi sepotong mimpi.

Bagaimana dengan Anda?

2 Comments

  1. alhamdulilah masih bisa bertenmu dengan ramadan tahun ini, dan masih sempet baca nasihat dari blog ini, walo telat bbrp episode
    semangat om 😀

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*