Mewariskan Kesusahan, Janganlah!

Mewariskan Kesusahan kepada Anak dan Istri, Janganlah!Apakah kamu hari ini sedang bokek? Lebih dari seminggu uang kiriman orang tua tak kunjung datang? Padahal harus segera melunasi uang kost serta harus segera melunasi SPP yang yang masih menunggak. Apakah kamu masih menyandang status mahasiswa yang hidup tersaruk-saruk di perantauan? Makan sekenanya hingga terancam penyakit tipus?

Jika kamu adalah bagian dari sekelompok mahasiswa yang sedang hidup susah, maka camkanlah dalam hatimu untuk tidak menularkan penderitaan ini kepada anak keturunanmu kelak.

Seorang lelaki sejati, konon katanya, akan rela hidup menderita tapi dirinya tidak akan membiarkan anak dan istrinya merasakan derita yang sedang dialaminya. Bahkan itu semua menjadi pantangan dalam hidupnya.

Jadi, segala yang menimpamu pada hari ini merupakan peringatan tentang tidak enaknya hidup dalam tekanan penderitaan. Oleh sebab itu, kamu harus berjanji terhadap diri sendiri bahwa cukup kamulah yang merasakan semua derita ini. Mulai berusahalah sungguh-sungguh sejak sekarang. Sehingga, ketika jodohmu tiba dan bahtera rumah tangga telah melaju, semua derita itu telah terkikis dan tidak berlanjut kepada anak dan istrimu.

Teman saya, Ahmadi yang menjadi Lurah di KampungWirausaha, pernah mengungkapkan tentang masa-masa suram dalam kehidupan 15 hingga 20 tahun lalu. Ia ingat betul betapa seragam sekolah belum bisa dilunasi kedua orang tuanya. Setiap hari harus menahan malu karena bolak-balik dipanggil petugas tata usaha sekolahnya itu.

Pencetus ide berdirinya Omah Sedekah ini pun pada akhirnya berkesimpulan bahwa jika keadaannya hari ini tidak lebih baik dari 15-20 tahun lalu, berarti ada yang salah dengan caranya menjalani hidup.

“Maka, sebelum segalanya terlambat, segeralah mengasah kemampuan, mengasah kreativitas, mengasah ilmu dan membaca setiap peluang. Mulailah sekarang juga, meski kamu baru punya 1 baut untuk cita-citamu membangun rumah.” Begitulah ia menuliskan nasihatnya pada status facebooknya.

Semua penderitaan yang telah kita alami pasti menjadikan kita lebih kuat dan kokoh dalam menghadapi ganasnya kehidupan. Meskipun demikian, pengalaman susah ini jangan terus dibawa-bawa ke anak istri. Seperti yang disampaikan Ahmadi, kita harus meyakinkan diri bahwa anak istri akan hidup lebih nyaman daripada kita.

“Kalau susah, ya jangan ngajak-ngajak anak orang, apalagi ngajak anak sendiri…..!” lanjutnya.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*