Menyambung Silaturahmi dengan Mantan Pacar, Haruskah?

Menyambung Silaturahmi dengan sang MantanMalam itu Salamun keluar dari kamarnya. Dengan muka kusut dan hati centang perenang, ia mendekap bantal lusuhnya sambil menyeret sehelai tikar. Menginjak malam ketiga, istrinya masih tetap membisu; diam seribu bahasa.

Malam semakin larut, mata Salamun tak terundang rasa kantuk. Padahal, jarum jam dinding di kamarnya telah menunjukkan angka tiga. Sesaat kemudian, Salamun memutuskan diri untuk tidur di ruang tengah beralaskan sehelai tikar. Lama-lama tidak betah juga tidur terus-menerus dipunggungi istrinya.

Panasnya musim kemarau tak terusik oleh putaran kipas angin sederhana miliknya. Nyaris setiap detik kedua telapak tangannya sibuk menepuk puluhan nyamuk yang tak ada bosannya merubung sekujur badannya. Satu sachet lotion pengusir nyamuk rupanya tak mampu menghalau serbuan nyamuk komando itu.

Sejak pertengkaran kecil itu, Sadiah istri Salamun, sulit diajak berkomunikasi. Mulutnya tertutup bak direstleting. Untungnya, ia masih mau menyajikan sarapan, makan siang, dan makan malam untuk Salamun. Kopi masih selalu terhidang setiap pagi.

Kesalahan apa yang telah dilakukan Salamun hingga membuat Sadiah sedemikian marah? Persoalannya sih dilihat dari kacamata Salamun sangat remeh. Dua hari yang lalu Salamun bertelepon ria dengan mantannya yang entah dari mana bisa mendapatkan nomor HP-nya. Salamun memandang sederhana peristiwa itu. Tak terbersit sedikit pun cinta masa lalunya. Tak terbit pula keinginan untuk menghangatkan kembali asmara basinya itu. Makanya dia enjoy saja bertelepon ria sekalipun sang istri sedang berada di sebelahnya.

Namun, pendapat Sadiah justru sebaliknya. Ia tidak menganggap enteng persoalan itu. Sadiah marah besar; merasa disepelekan. Maka terjadilah perang baratayuda itu. Sadiah melakukan perlawanan dengan sikap diamnya. Rentetan pertanyaan, senyuman, serta canda Salamun ditanggapi dingin oleh Sadiah. Yah, Salamun mati gaya jadinya. Akhirnya, dia juga larut dalam perang dingin itu.

***

Serbuan brigade nyamuk akhirnya mengurungkan nawaitu Salamun untuk tidur di ruang tengah hingga pagi menjelang. Bantal lusuh dan tikar dibawanya kembali ke dalam kamar.

Ketika masuk kamar, Sadiah masih didapatinya tidur miring menghadap tembok. Masih memunggungi dirinya. Sejenak Salamun tertegun. Ingin sekali dirinya menyampaikan permohonan maaf. Tapi, dilihatnya Sadiah terlelap dalam tidurnya.

Dilempar sepatu oleh Sadiah merupakan pilihan terbaik bagi Salamun daripada didiamkan begitu rupa. Tak baik, pikir Salamun, harus lama tak saling tegur sapa dengan istrinya. Bukankah agama mengajarkan bahwa toleransi tidak saling sapa itu hanya tiga hari saja.

Dengan perasaan was-was Salamun mengguncangkan punggung istrinya. Sadiah pun terbangun.

“Aku minta maaf ya, atas segala kesalahanku kemarin,” pinta Salamun. Sementara itu, Sadiah masih menanggapinya dengan dingin.

“Aku minta maaf, ya…?!” ulang Salamun. Tak sepatah kata pun terucap dari mulut Sadiah. Yang ada hanya rembesan air mata yang kemudian perlahan mengalir membasahi pipinya. Salamun memeluk istrinya dari belakang. Belaian lembut tangan Salamun, akhirnya dapat meluruhkan amarah Sadiah. Malam itu mereka saling bermaafan.

Pascarekonsiliasi dengan istrinya, Salamun memutuskan diri untuk berhenti berkomunikasi dengan mantan pacarnya. Nomor telepon sang mantan dihapus dari memori telepon selulernya. Baginya lebih baik memutuskan tali silaturahmi dengan mantannya itu daripada harus kehilangan istrinya. Dan besok, dengan rendah hati, Salamun akan memohon kepada mantannya itu untuk tidak lagi menelpon dirinya dalam keadaan apa pun.

***

Kawan, banyak sekali di antara kita yang masih keep contact dengan sang mantan dengan dalih menyambung tali silaturahmi. Pikirmu, memutuskan silaturahmi itu tidak baik. Ketika dalih itu kita gunakan, sejatinya kita sedang mengguncang rumah tangga kita sendiri. Sebaiknya putuskan mata rantai komunikasi di antaramu dengan sang mantan jika tidak ingin rumah tangga kita berantakan.

Jangan terjebak pada kata-kata menyambung silaturahmi. Bagimu mungkin itu persoalan sederhana, tapi lain tanggapannya dengan pasangan hidupmu. Hargai perasaan pasangan hidupmu.

Semoga pengalaman Salamun ini bisa menginspirasi kita semua, khususnya bagi kalian yang saat ini sedang menempuh persiapan berumah tangga.

Demi menyelamatkan bahtera rumah tanggamu, hindari kontak dengan mantanmu.

6 Comments

  1. waljiman says:

    Mungkin benar lebih baik memutuskan tali silaturahmi daripada harus mengorbankan bahtera rumah tangga.
    Mantan pacar apapun itu sudah bukan milik kita, saat ini keluarga kita adalah milik kita yang paling berharga.
    Kalau kita harus memilih maka keluarga adalah yang harus kita pilih

  2. Sangat setuju, jangan beri peluang berkomunikasi kepada sang mantan. Hargailah apa yang kamu miliki saat ini, jangan sampai menimbulkan kekecewaan. trims artikelnya bro…sangat menarik

  3. iyach cerita’y hampir sama dg ceritaku,tp sayang’y yg memakai dalih silaturrahmi bukan’y suami q melain kan kk ipar dan mertua q.sakit bgt ky g’d’hargai.

  4. Terima kasih ceritanya,sama dengan yang saya alami sekarang tapi bedanya itu calon istri saya, dengan dalih “menjaga silaturahmi” inginnya saya mengijinkan dan menerima hal itu.dia tdk menghargai perasaan saya dan bahtera rumah tangga yang akan dibangun….

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*