Menilai dengan Dasar Kebencian, Jangan Dah!

Menilai dengan Dasar Kebencian, Jangan Dah!Joko Widodo alias Jokowi menjadi sosok paling fenomenal akhir-akhir ini. Tak ada satu pun media yang tak pernah memberitakannya. Media cetak, media elektronik, lebih-lebih sosial media yang demikian mudahnya diakses penuh dengan kabar mengenai sepak terjang Jokowi.

Bukan sekedar di tanah air, Jokowi pun menjadi topik hangat di luar negeri. Harian The New York Times dan Asahi Shimbun  menuliskan kegiatan blusukan dan semua kiprah Gubernur DKI yang sangat jauh berada di luar mainstream itu. Dia memang tengah menjadi media darling di mana-mana.

Sebagaimana galibnya sifat manusia, tiap kali ada seseorang yang bisa menunjukkan prestasi, mesti muncul orang-orang yang menyimpan rasa iri bahkan benci. Di satu sisi masyarakat Jakarta sedemikian mengelu-elukan Jokowi. Bertahun-tahun mereka menunggu pemimpinnya yang tidak sekedar duduk di belakang meja, melainkan turun ke lapangan untuk melihat langsung masalah yang dihadapi warga. Namun di sisi lain, tokoh-tokoh tertentu tampak tidak senang dengan segala kiprah yang dilakukan Jokowi. Apa pun yang dilakukan Gubernur DKI itu tak sedikit pun membangkitkan kekaguman. Semua prestasi yang dilakukan sang Gubernur selalu ditilik dari sisi negatif. Tak pernah ada benarnya.

Kawan, jika kita merupakan bagian dari orang-orang yang memelihara rasa iri, maka sampai kapan pun hati kita akan selalu tertutup untuk hadirnya kebaikan. Rasa iri merupakan sarana pengundang datangnya hasud. Pada zaman Rasulullah sifat tersebut sangat melekat dalam kepribadian Abu Lahab.

Orang-orang yang digelayuti rasa iri dan hasud tidak akan mampu melihat fakta secara proporsional dan bahkan menolak terhadap fakta yang sebenarnya. Ia akan selalu berburuk sangka terhadap sikap positif yang ditunjukkan orang lain. Dalam menilai sesuatu selalu menggunakan kebencian sebagai dasar. Akibatnya, kebaikan sekecil apapun akan enggan mendekatinya. Jodoh pun kemungkinan akan menjauhinya.

Jika merasa begitu banyak menghadapi kendala dalam mendapatkan jodoh, maka yang pertama harus diintrospeksi adalah sifat hasud, iri, atau dengki yang mungkin begitu akutnya memenuhi hati kita.

Mulai saat ini mari kita bersihkan hati ini dari segala sifat negatif tersebut. Semakin cepat kita jauhi sifat hasud, maka semakin mudahlah sang jodoh mendekat kepada kita. Mari kita nilai kolega, tetangga, teman, bahkan saingan kita secara jujur. Bukan dengan dasar kebencian. Semakin dijejali hati dan pikiran dengan kebencian, maka akan semakin menjauhlah kebaikan, rezeki, juga jodoh kita.

Semoga Tuhan senantiasa menjauhkan kita dari sifat negatif tersebut. Amien.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*