Masya Allah, Di Hari Valentine Banyak Pasangan Ngeseks Bebas

Katakan Tidak pada Valentine DayAgak terhenyak mengikuti berita di televisi lokal tadi malam. Ya, Di sebuah kabupaten di Jawa Timur, sejumlah pasangan yang bukan muhrim tertangkap basah oleh satpol PP sedang melakukan hubungan suami istri di sebuah hotel kelas melati. Sebagian besar dari pasangan tersebut adalah para remaja bau kencur. Mereka memasuki ranah tabu tersebut lengkap dengan alat kontrasepsi di tangan.

Ada apa sebenarnya dengan kecenderungan bangsa kita ini? Mereka mencerap budaya dari negeri antah berantah hanya dari sisi miringnya saja. Lihatlah bagaimana budaya seks bebas mulai merambah kehidupan anak-anak muda kita. Narkoba merajalela dari mulai kalangan anak ingusan, artis hingga para pemegang keputusan. Mengapa kita selalu belajar kebudayaan barat hanya dari sisi negatifnya saja.

Tengoklah Jepang. Mereka sama dengan kita; terperangah dengan kebudayaan barat. Bedanya kita lebih banyak meniru sikap negatifnya. Sementara itu, bangsa Jepang sekian ratus tahun yang silam, dengan dipimpin langsung oleh kaisarnya melakukan tindakan pembelajaran terhadap kebudayaan barat itu dari sisi kemajuan ilmu pengetahuannya. Bangsa Jepang melakukan restorasi kebudayaannya pada zaman Pemerintahan Meiji. Mereka memang terperangah dengan kebudayaan barat namun masih berpegang teguh pada nilai-nilai tradisional timur. Di situlah letak perbedaan kita dengan bangsa Jepang.

Sebagian bangsa kita tampak merasa jadi orang udik manakala tidak ikut-ikutan latah mengamini budaya yang disebut Hari Valentine. Sebagian lagi membuat tafisran yang tidak jelas sumbernya, seakan-akan bahwa pada hari kasih sayang itu sah bagi seorang kekasih menyerahkan kehormatannya kepada pujaan hatinya. Padahal penghulu belum menyatakan sah hubungan kedua manusia tersebut.

Ya, Valentine Day seakan sebuah pesta pora seks bebas; sebuah legitimasi atas kebejatan moral. Penjualan alat kontrasepsi meningkat di mana-mana. Tingkat hunian hotel kelas melati dengan tarif per jam mengalami peningkatan. Mau berangkat ke mana bangsa kita?

Seorang kawan saya menyatakan rasa kasihannya kepada para pemuja Hari Kasih Sayang ini. “Kok kasih sayang cuma  dilakukan sehari. Kasihan dech loe!” ujarnya.

Tak ada yang salah dengan budaya Barat; yang salah itu kita manakala keliru mengikutinya. Banyak hal yang bisa kita pelajari dari kebudayaan bangsa Barat. Mengapa kita hanya terpengaruh oleh budaya obral kehormatannya, bukan oleh budaya mereka dalam menghargai waktu, misalnya.

Ah, sudahlah, lupakan itu Valentine Day. Mari kita jadikan setiap hari sebagai hari kasih sayang. Kita lebarkan makna kasing sayang itu bukan terbatas cinta kepada kekasih kita, melainkan juga cinta kepada sesama. Utamanya, cinta kepada sang khalik yang menghidupi dan menghidupkan kita.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*