Ah, Terlalu Mainstream Kita!

Ah, Terlalu Mainstream Kita!Menjadi pribadi yang bergerak di luar mainstream tampaknya bisa mengantar kita ke pintu keberhasilan.  Seperti apakah bentuk tindakan nyata agar bisa terkategorikan bergerak di luar mainstream itu? Menjadi orang yang hidup bahagia adalah contoh salah satunya.

Lho, memangnya sangat sedikitkah orang bahagia di bumi pertiwi ini? Sedikit, Mas. Buktinya kalau kita perhatikan status ataupun kicauan yang terpampang di fb dan twitter, mayoritas mengandung keluhan atau umpatan mengenai ketidakbahagiaan. Kita berbincang-bincang dengan seseorang, isinya tentang ketidakbahagiaan. Oleh sebab itu, menjadi orang bahagia adalah pilihan di luar mainstrem yang perlu kita tetapkan sejak sekarang.

Caranya bagaimana agar bisa terkelompokkan ke dalam komunitas orang bahagia? Ya, berusaha saja agar setiap persoalan yang dihadapi itu selalu ditilik dari sudut bahagianya saja. Bukan dari sisi sebaliknya. Misalnya, kemarin kita baru saja ditolak cewek. Kalau kita hitung dari sudut kebahagiaannya, mestinya kita bahagia. Kok, bisa? Ya, bisa saja, mengapa tidak? Kita beruntung dikaruniai rasa cinta kepada lawan jenis. Masih banyak saudara-saudara kita yang tidak bisa jatuh cinta kepada lawan jenisnya. Soal ditolak, itu urusan kesekian. Yang penting kita bisa bahagia karena Tuhan masih memberikan karunia-Nya kepada kita dalam bentuk rasa cinta kepada lawan jenis kita.

Ditolak, ya memang menyakitkan. Tapi, kamu kan baru ditolak cewek lima kali. Saya pernah ditolak oleh 18 cewek sebelum akhirnya cewek yang ke-19 bersedia menjadi istri saya. Hingga hari ini saya masih merasa menjadi orang paling bahagia sedunia. Istri saya tidak terlalu cantik tapi bisa melahirkan anak sesuai dengan rencana saya. Bayangkan, masih banyak di luar sana yang masih menanti  kehamilan istrinya.

Pokoknya, orang-orang yang jalan hidupnya di luar mainstream, insya Allah, bahagia lahir batin. Makanya, mulai hari ini hitung karunia Tuhan yang patut kita syukuri. Hari ini saya bersyukur karena masih secara gratis bisa menghirup oksigen. Coba bayangkan, apa jadinya seandainya oksigen itu harus saya beli. Rasa syukur yang kedua disampaikan ke hadirat-Nya karena istri saya sebagai pedagang kaki lima secara online, berhasil menjual dua pasang sepatu. Rasa syukur yang ketiga disampaikan atas kebaikan atasan saya yang rela telah memarahi saya. Alhamdulillah, seandainya Beliau tidak marah, mungkin saya tidak akan bisa dan tidak mengetahui cara memperbaiki kesalahan yang telah diperbuat. Rasa syukur yang terakhir disampaikan karena uang yang tertinggal di dompet saya jumlahnya amat terbatas sehingga saya harus menunda jadwal makan siang. Dengan demikian, saya bisa melanjutkan program penurunan berat badan.

Nah, banyak khan peristiwa yang menimpa kita yang mestinya patut kita syukuri. Haqul yaqin, itu semua berpendar dalam orbit yang dikehendak-Nya.  Jadi, mengapa mesti bersedih? Bahagia sajalah. Sebab jika tidak bisa bahagia dengan segala peristiwa yang menimpa, kita ini terlalu mainstream, Kawan!

2 Comments

  1. i like it 🙂

  2. Betul itu!
    Bisa saja kamu menyukai sesuatu tetapi sesungguhnya itu buruk bagimu.
    Dan bisa saja kamu membenci sesuatu, tetapi sesungguhnya itu baik bagimu.
    Ngutip dari Al-Qur’an, tapi lupa Ayatnya….

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*