Lihat Anak Orang Ingat Anak sendiri; Lihat Istri Orang Lupa Istri sendiri

LDRApakah Anda sedang tercerai-berai dengan anggota keluarga Anda? Istri Anda tinggal di suatu kota, sementara anak-anak sedang menuntut ilmu di kota lainnya. Anda sendiri, karena tugas dan pekerjaan, harus hidup sendiri; terlempar di sebuah tempat.

Jika Anda menjawab “ya” berarti kita senasib dan sepenanggungan.

Seandainya Anda bisa bepergian dengan menggunakan moda pesawat, saya katakan Anda sedikit beruntung. Ya, dibandingkan dengan saya Anda sedikit lebih beruntung. Saya hanya mampu menjenguk keluarga bermodalkan tiket kereta api kelas ekonomi atau paling tinggi kelas bisnis.

Tentu saja waktu tempuh kereta api sangat berbanding lurus dengan kesempatan bertemu keluarga. Kereta tiba di Surabaya pukul 03.00 dinihari. Di antara waktu salat tahajjud dan salat subuh itulah, sebagai suami saya menafkahi batin istri saya. Lalu, selepas salat subuh, kembali saya beranjak menuju dua kota di Jawa Timur guna menjenguk dua anak yang sedang menempuh pendidikan di sana.

Waktu semalam dimanfaatkan untuk menunjukkan rasa kasih sayang kepada anak-anak saya. Keesokan harinya saya kembali bersiap menuju Surabaya. Sesampainya di Kota Pahlawan itu, di rumah saya berkemas menuju ke Stasiun Pasar Turi. Mengejar jadwal kereta yang akan bertolak sore hari ke Jakarta.

Ada sekian ratus, bahkan, ribuan manusia bernasib sama dengan saya. Dalam situasi seperti ini, ketabahan, kesabaran dan ketawakalan menjadi perekat utama keharmonisan dalam keluarga. Saya tidak bisa membayangkan bagiamana jadinya seandainya istri saya tidak tabah dalam menjalani model kehidupan berkeluarga seperti yang sedang dihadapi ini. Selama ini saya perlakukan dia layaknya seorang selingkuhan. Waktu pertemuan sangat singkat karena, sebagaimana diceritakan tadi, saya harus membagi kehadiran di tiga kota yang cukup berjauhan.

Saya sering tidak sabar dalam menghadapi situasi ini. Tapi, istri saya begitu tegar menghadapinya. Bahkan, petuah tentang kesabaran itu lebih banyak mengalir dari lisannya. Bukan sebaliknya dari saya.

Bagi kalian yang masih menyandang status jomblo maupun yang sedang bersiap naik ke pelaminan, semoga pengalaman saya ini bisa menjadi pelajaran berharga. Bahwa pada suatu saat, karena pekerjaan ataupun tugas dari perusahaan, kita harus berpisah dengan anggota keluarga kita. Jika kita arif dan bijaksana dalam menjalaninya, situasi ini akan mengantar kita pada tingkat kemesraan paling tinggi dengan pasangan kita. Ya, akibat terpisahkan ruang dan waktu, ingatan kita akan menerawang banyak hal positif yang dimiliki oleh pasangan kita.

Situasi sebaliknya bisa saja terjadi manakala kita tidak arif dan bijaksana menghadapi situasi ini. Ingat lho, ketika melihat anak orang kita ingat anak sendiri, tetapi saat melihat istri orang, kalau tidak istighfar, kita bisa lupa istri sendiri.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*