Kita Terlahir (bukan) Sebagai Bangsa Pencela

Kita adalah Bangsa yang Pandai MencelaRabu (19/3), saat menerima Anugerah PWI Jatim 2014 di Hotel Shangrila Surabaya, Panglima TNI Jenderal Moeldoko, menyampaikan keprihatinannya tentang miskinnya bangsa kita dalam menghargai orang lain.

Ungkapan Panglima TNI sangat sejalan dengan pengalaman teman saya. Lima tahun lalu ia menemui seorang pengemudi Land Rover yang mengalami kesulitan untuk menghidupkan mesin mobil tuanya itu. Beberapa tukang becak mencoba mendorongnya, tapi mobil made in Inggris itu tetap saja enggan buka suara.

Merasa kasihan terhadap sang pengemudi, teman saya mencoba membantu problema yang dihadapinya. Dibukanyalah kap mesin mobil itu. Setelah itu diambilnyalah sebuah obeng besar. Dan, cukup beberapa ketukan gagang obeng pada dinamo stater, mobil itu akhirnyaa mau buka suara.

Kemudian, apa yang terjadi sesudahnya? Jangankan memberikan uang jasa, si pengemudi itu mengucapkan terima kasih pun tak. Dipikirnya apa yang dilakukan teman saya itu masalah cetek. Siapa pun bisa. Ia lupa bahwa cara sederhana itu bersumber dari sebuah proses uji coba dan jerih payah yang panjang. Ia lupa jika tidak dibantu oleh teman saya, mobil itu akan tetap mogok melintang di tengah jalan.

Kawan, tidak sedikit di antara kita yang sesungguhnya berprilaku seperti pengemudi Land Rover itu. Kita sering mengentengkan jerih payah seseorang. Alih-alih menghargai, kita sering mencela jasa seseorang.

Pada musim kampanye ini, dari panggung ke panggung lebih sering terdengar hujatan daripada pujian. Itu semua adalah cermin kepribadian kita yang jauh lebih pandai mencela daripada memuji.

Sudah waktunya kita berintrospeksi diri. Jangan-jangan, jauhnya rezeki yang sedang kita alami, salah satu penyebabnya adalah kurang pandainya kita dalam menghargai orang lain. Bisa jadi gagalnya kita meraih kursi di parlemen penyebabnya adalah terlalu pandainya kita dalam mencela.

Demikian pula dalam urusan jodoh. Makin menjauhnya para gebetan, jangan-jangan juga diakibatkan kurang pandainya kita dalam menghormati orang lain.

Mari telisik diri kita masing-masing.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*