Kisah Raja dan Pembantu Setianya

Kisah Raja dan Pembantu SetianyaSyahdan, dahulu kala hiduplah seorang raja yang kemana pun pergi senantiasa didampingi oleh pembantu setianya.

“Wahai Baginda Raja, Allah itu Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Tak ada satu pun keputusan-Nya yang merugikan kita,” demikian yang selalu diucapkan oleh si pembantu setia itu kepada sang raja.

Pada suatu hari sang raja dengan disertai oleh pembantu setianya itu berangkat berburu ke sebuah hutan. Di tengah belantara nan lebat tersebut keduanya diserang seekor binatang buas.

Dengan sigap si pembantu setia melumpuhkan binatang buas itu. Pembantu setia itu dapat menyelamatkan sang raja dari kehilangan nyawanya, namun sayang, dia tidak bisa menyelamatkan raja dari kehilangan salah satu jari tangannya.

“Jika benar Allah itu Maha Pengasih dan Maha Penyayang, manalah mungkin Dia membiarkanku kehilangan jari manisku,” protes sang raja.

“Wahai Baginda, tak ada satupun keputusan-Nya yang salah. Segala yang menimpa kita tentulah terjadi demi kebaikan kita,” jawab sang pembantu setia itu.

Merasa tersinggung, sang raja pun kemudian memenjarakan si pembantu itu. Hingga beberapa minggu kemudian ia berburu di sebuah hutan tanpa pengawalan siapa pun.

Tibalah sang raja di sebuah kawasan yang dikuasai oleh sekelompok suku primitif yang menangkapnya untuk dijadikan tumbal persembahan kepada dewa mereka.

Sesaat kemudian, sebelum sang raja dimasukkan jurang sebagai bentuk persembahan suku primitif itu kepada dewa mereka, sang kepala suku menemukan kejanggalan pada salah satu ruas jari sang raja.

“Hentikan upacara persembahan ini. Tumbal kita tidak sempurna. Masa kita harus menyajikan tumbal yang tidak lengkap anggota tubuhnya, ” teriak kepala suku.

Maka sang raja pun kemudian dibebaskan sehingga bisa kembali ke istana dalam keadaan selamat. Sesampainya di istana, pembantu setianya kemudian dibebaskannya dari kungkungan penjara.

“Benar sekali ucapanmu itu, Allah itu Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Seandainya aku tak kehilangan jari, mungkin saat ini yang kembali ke istana tinggal namaku saja. Tapi ngomong-ngomong, kalau memang benar Allah itu Maha Pengasih dan Maha Penyayang, mengapa Dia membiarkanku memenjarakanmu?” kata sang raja.

“Wahai Baginda, seandainya saya tidak Tuan penjarakan, mungkin saya mendampingi Baginda berburu. Bisa dipastikan sayalah yang bakal menjadi tumbal. Bukankah anggota tubuh saya lengkap, tidak kurang sesuatu apa pun. Di situlah letaknya bahwa keputusan Allah itu tidak pernah salah. Semua yang diputuskan-Nya demi kebaikan kita. Dia Maha Pengasih dan Maha Penyayang.

Bro dan Sis, semoga kisah di atas bisa menyadarkan Anda yang baru saja diputuskan oleh seseorang ataupun ditolak mentah-mentah oleh orang yang sangat Anda cintai. Percayalah dan berbaik sangkalah kepada Allah SWT. Tak ada satu pun yang salah dengan keputusan-Nya. Semua itu terjadi demi kebaikan masa depan Bro dan Sis sendiri. Percayalah.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*