Kisah Profesor India dan Ayam Goreng

Kisah Profesor India dan Pecel Madiun“Orang yang memiliki intelektualitas akan mengatasi hasratnya melebihi kemampuan malaikat. Sedangkan dia yang memiliki hasrat akan mengatasi intelektualitasnya lebih rendah dari binatang.”
(Jalaluddin Rumi)

Beberapa tahun lalu, dalam sebuah seminar, Pak Kresnayana Yahya mengisahkan sahabatnya, seorang profesor dari India. Pakar satistik dari ITS Surabaya ini bercerita bahwa dalam sebuah jamuan makan siang, sang profesor dari negeri Mahatma Gandhi tersebut disuguhi makanan khas Jawa Timur, pecel madiun. Tentunya, di samping sayuran yang dikukus plus guyuran sambal kacang, dalam seporsi pecel madiun akan tersajikan lauk pauknya bisa berupa empal, ceplok telur, atau ayam goreng.

Ketika makan siang itu dimulai, ada kejadian unik. Sang profesor sama sekali tidak menyentuh ayam goreng yang disajikan sebagai lauk nasi pecel madiun tersebut. Peristiwa ini sungguh mengejutkan tenaga pengajar ITS tersebut. Dikiranya ayam goreng tersebut sudah kadaluwarsa hingga tidak layak saji lagi.

Ketika keganjilan itu ditanyakan oleh Pak Kresnayana kepada sang profesor, dengan tawadhu sang profesor menjawab: “Saya sudah terbiasa makan begini. Bagi saya makan dengan sayuran sudah terkategorikan lebih dari cukup. Saya khawatir jika ayam goreng ini saya makan, selanjutnya akan menjadi kebiasaan. Pola hidup saya yang sudah sederhana ini khawatir terus berubah sejalan meningkatnya hasrat dan selera makan saya.”

Kawan, untuk ukuran kita cerita ini mungkin sangat tidak masuk akal. Ayam goreng adalah makanan yang lumrah kita santap. Dalam berbagai kesempatan kita kerap menikmati makanan amat generik ini, baik di warung kaki lima maupun di resto-resto waralaba yang tersebar di seantero kota.

Benang merah kisah profesor India dan ayam goreng ini, jika kita telusuri sesungguhnya sampai pada kehidupan kita sehari-hari. Kita lebih cenderung sulit untuk bisa menahan diri dari godaan hasrat. Sikap konsumtif makin menjadi-jadi karena tuntutan gengsi yang tinggi. Tanpa sebab yang jelas, kita membeli ini itu. Sesampainya di rumah, barang itu kita geletakan begitu saja karena sesungguhnya kita tidak membutuhkannya. Beberapa di antaranya masih tampak rapi jali karena belum sempat kita keluarkan dari kemasannya.

Mungkin inilah yang menjadi alasan sang profesor tadi tidak mau menyentuh ayam goreng dalam sajian nasi pecel madiun. Dia khawatir akan ditelan konsumerisme membabi buta. Dia takut timbulnya sebuah kebiasaan yang tadinya tidak biasa.

Profesor yang diceritakan Pak Kresnayahya adalah gambaran tentang sikap dan tindakan seorang cendekiawan sejati. Pertanyaannya, sudahkah kita yang mengambil sikap yang sama dengannya? Bukankah selama ini kita merasa sebagai kaum intelek sejati karena mengantongi aneka gelar akademik?

Merujuk pada kata-kata bijak Jalaluddin Rumi, mestinya makin tinggi intelektualitas kita, makin tinggi pula daya kendali kita terhadap rayuan gombal hasrat. Saya khawatir, yang terjadi malah sebaliknya: Tingginya intelektualitas sama sekali tidak berkorelasi dengan kearifan kita. Kita jadi semakin tertelan hasrat konsumtif dan tergilas faham konsumerisme.

Nah, sebelum jodohmu tertangkap tangan, sebelum bahtera rumah tanggamu telanjur melaju menuju samudera, ada baiknya hikmah dari kisah Pak Kresnayana ini dijadikan bekal. Saya tentu tidak berharap keluargamu kelak terjerumus ke dalam sikap konsumtif tak terkendali; sebuah kebiasaan membiasakan yang tidak biasa sehingga menjadi biasa. Tuh, bingung Khan?

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*