Kisah Bupati Bandung dan Keris yang Menggantung

Kisah Bupati Bandung dan Keris yang MenggantungSemasa masih duduk di bangku kelas 3 SD, saya sangat terkesan dengan sebuah buku berjudul Bandung Baheula. Buku tersebut berupa kumpulan tulisan Rahmatullah Ading Afandi (RAF) dan di dicetak pada tahun 1959 oleh percetakan Pelita, kalau tidak salah.

Pada era tahun 70-an sarana hiburan buat anak-anak memang sangat terbatas. Pemilik televisi hitam putih di kampung saya masih dalam jumlah hitungan jari. Maka buku dan majalah menjadi saran penghibur diri sehabis rehat bermain dengan teman-teman sebaya.

Terdapat sebuah cerita dalam buku tersebut yang benar-benar berkesan di hati saya. Yakni kisah tentang Bupati Bandung RAA Wiranatakusumah. Sebenarnya cerita ini pernah saya tulis sebelumnya untuk mengisi blognya Asri Tadda, rekan blogger saya. Tapi, kali ini saya ulang kembali, mengingat begitu banyaknya para jomblowati yang bercita-cita menjadi suami seorang pejabat tinggi. Di samping itu, banyak sekali para petinggi yang tijalikeuh lalu menjadi tahanan KPK. Minimal postingan ini bisa menjadi sarana pengingat bagi diri saya tentang risiko dan ancaman yang dihadapi oleh seseorang yang memangku sebuah jabatan, sekecil apa pun jabatan itu.

Alkisah, pada tahun 1920 yang memegang tampuk pimpinan di wilayah Kabupaten bandung adalah RAA Wiranatakusumah. Bupati Bandung yang sebelumnya menjabat sebagai Bupati Cianjur ini dikenal sangat memperhatikan rakyat dan bawahannya. Pada suatu hari sang bupati secara tidak sengaja mendengar keluhan pembantu rumah tangganya.

“Betapa enaknya menjadi seorang bupati. Hidup serba dilayani. Tidur pun di kasur yang empuk. Sementara aku hidup serba susah, tidur pun hanya beralaskan tikar,” gumam si pembantu.

Mendengar keluhan tersebut Bupati RAA Wiranatakusumah, segera memanggil pembantu rumah tangganya. “Kalau begitu, bagaimana kalau mulai malam ini kita bertukar tempat tidur saja?!”

Tentu saja si pembantu kaget luar biasa. Ia tidak menyangka gerundelannya itu akan terdengar oleh majikannya. Ia pun berkali-kali memohon ampun sang bupati agar memaafkan segala kedunguannya. Namun, sang bupati tetap bersikukuh pada pendiriannya. Dan ketika malam tiba, mereka berdua pun bertukar tempat tidur.

Hampir semalaman si pembantu tidak dapat memejamkan matanya. Hatinya masih diliputi perasaan berdosa. Betapa lancang dirinya; tidur di tempat yang bukan peruntukannya. Namun, perasaan gelisah itu lambat laun menghilang jua seiring tibanya rasa kantuk. Si pembantu yang sederhana itu tidur dengan nyenyaknya.

Dini hari, si pembantu melompat dari tempat tidurnya. Betapa kagetnya ia. Di atas tempat tidurnya tampak menggantung sebilah keris yang berayun pelan ke kiri dan ke kanan seakan mengancam dan siap menghujam perut si pembantu itu.

Ketika tergopoh-gopoh lari meninggalkan kamar majikannya, sang pembantu menubruk badan majikannya yang berdiri di ambang pintu kamar tersebut.

Sambil mengulum senyum yang tertahan, sang bupati berkata, “Nah, sekarang kamu mengerti khan, bahwa  pejabat itu hidup di bawah ancaman; seperti tidur di bawah ancaman sebilah keris yang menggantung pada sehelai rambut. Jika tidak waspada dalam menjaga amanah, maka cepat atau lambat ancaman itu akan berubah menjadi bencana bagi kehidupannya.”

Para jomblowati yang budiman, jika kalian sedang mengidam dilamar oleh seorang pejabat tinggi, sesungguhnya cita-citamu itu sangat mulia. Namun demikian, sebelum ijab kabul terucapkan ada baiknya kamu mempersiapkan diri agar kelak suamimu tidak terperosok ke dalam jurang kehinaan yang mahadalam.

Ancaman akan datang dari berbagai penjuru. Keris tersebut yang senantiasa menggantung di pada sehelai benang yang rapuh. Jika kamu tidak pandai-pandai dalam mendampingi suamimu, maka suatu ketika keris itu akan jatuh dan menghujam perut suamimu itu.

Pikirkan mulai sekarang tentang cara agar suamimu terhindar dari marabahaya akibat tanggungan amanah yang diembannya. Pikirkan tentang bagaimana agar dirimu bisa menjadi solusi terhadap problema yang sedang dihadapinya. Bukan sebalinya, malah dirimulah sumber masalah tersebut. Bukan dirimulah yang menjadikan suamimu menghalalkan berbagai cara demi memenuhi hasratmu. Bukan dirimulah yang menyebabkan  rambut rapuh itu putus sehingga keris yang diikatnya jatuh melesat dan menancap  tepat di uluhati suamimu.

Semoga ada hikmah di balik cerita sederhana ini. Amien!

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*