Khasiat Apel bagi Seorang Pencari Jodoh

appleKali ini saya akan menceritakan kembali kisah seorang pemuda yang menemukan buah apel dan memakannya. Syahdan, pada zaman anak kecil sulit menemukan contoh tentang berbicara bohong dan para orang tua pun kesulitan menjelaskan tentang perbuatan tidak jujur kepada anak-anaknya, hiduplah seorang pemuda. Sebut saja si pemuda itu dengan nama Zahid.

Ketika duduk-duduk di tepi sungai, lewatlah sebutir apel yang ranum terbawa arus. Dalam kondisi perut keroncongan karena belum terjamah lontong sayur dan belum bertemu penjual ketoprak, kehadiran apel tentunya membawa berkah tersendiri bagi Zahid. Maka diburulah apel itu kemana pun hanyut. Setelah bergumul dalam perjuangan yang berat, apel itu pun akhirnya telah bercengkrama di dalam perutnya.

Sejenak kemudian Zahid menyadari bahwa apel yang dimakannya itu belum sepenuhnya halal. Ia menyesali akan sikap gegabahnya itu. Lalu, ditelusurinya tepian sungai mengarah ke hulu. Tujuannya hanya satu: menemukan pemilik buah apel itu.

Setelah berjam-jam berjalan, tibalah Zahid di sebuah perkebunan apel yang luas. Ia pun meminta izin kepada pemilik kebun yang ditemuinya untuk menghalalkan apel yang telah dimakannya.

“Waduh Dik, saya ini sekedar tenaga penggarap saja, sama sekali bukan pemilik perkebun apel ini. Kalau ingin beroleh predikat halal atas apel yang telah Sampeyan makan, Sampeyan harus berjalan 10 kilometer lagi ke depan hingga menemukan sebuah perkampungan besar. Sesampainya di sana, temui saja Pak erte. Tanyakan saja kepada Beliau rumah pemilik kebun apel ini. Gimana, sudah jelas?” tanya sang penggarap dengan logat mirip Butet Kertarejasa itu.

Singkat cerita, bertemulah Zahid dengan pemilik asli perkebunan apel itu. Dengan segala kerendahan hatinya, ia memohon kepada sang pemilik kebun untuk menghalalkan apel yang telah dimakannya.

“Ya, dengan ini saya nyatakan bahwa apel yang telah kamu makan halal, tapi setengah halal saja. Ya, setengah halal saja!” teriak si pemilik kebun.

“Maksud Bapak?” tanya Zahid dengan mimik penuh ketidakmafhuman.

“Apel itu baru bisa halal seratus persen setelah kamu menikahi anak saya yang lumpuh, buta, bisu, sekaligus tuli.”

Zahid diam terduduk dalam galaunya. Demi halalnya apel yang telah dimakannya, ia pun bersedia menikahi putri sang pemilik kebun itu.

Sang pemilik kebun lalu memanggil dan memperkenalkan anak gadis semata wayangnya. Zahid pun terbelalak matanya karena ia tidak menemukan sedikit pun kekurangan pada gadis yang ada di hadapannya. Gadis itu benar-benar sempurna secara fisik maupun mental.

“Anak saya memang lumpuh untuk berjalan menuju perbuatan maksiat. Buta untuk melihat perbuatan yang dilarang Tuhan. Bisu jika lisannya digunakan untuk bergosip. Dan tuli mendengar perkataan-perkataan yang tidak membawa manfaat dunia akhirat,” tegas sang pemilik kebun.

Finally, Cinderella, Eh Zahid, menikahi putri sang pemilik kebun and live happily.
Di mana letak benang merahnya? Apa moral cerita ini? Lantas apa khasiat buah apel dalam urusan jodoh?

Kamu sama sekali tidak menemukannya, ya?. He-he-he-hehh…., sorry. Kalau diurut sebenarnya ada. Seandainya Zahid tidak memakan apel itu dan tidak berusaha menacari pemiliknya, tentunya ia tidak akan beroleh jodohnya.

Cerita ini pasti sudah puluhan bahkan sudah ratusan kali kamu dengar, baca, dan lihat lewat media radio, koran, atau pun televisi. Tapi, khususon kali ini marilah kita lihat kisah tersebut dari hikmah jodoh yang diperoleh si pemuda itu. Betapa kejujuran dan sikap akhlakul karimah telah membawa Zahid menemukan jodoh idamannya.

Adakah sebidang tempat untuk menyemai dan menyirami sifat akhlakul karimah dalam hatimu? Kalau ada, berbahagialah; karena kamu adalah salah satu “target DPO” para calon mertua yang sedang berkeliaran mencarikan jodoh untuk putrinya.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*