Ketika Rasa Hampa Datang Melanda

Ketika Rasa Hampa Datang Melanda

“Sejak Desember kami sudah pisah resmi. Mohon maaf, mohon tenang. Kami berdua tetap akrab seperti kakak adik kok. Sampai kapan pun, Ira tetap ibu dari anak-anakku.GBU”

Begitulah kicauan Katon Bagaskara pada akun twitternya beberapa waktu yang lalu. Ada apa di balik perpisahan Katon Bagaskara-Ira Wibowo? Selama 17 tahun mereka merenda cinta dalam biduk rumah tangga yang benar-benar sunyi dari aneka gossip serta serta senyap dari prahara. Tak pernah sekali pun terdengar mereka bertikai. Tahu-tahu kabar perceraian itu merebak ke mana-mana.

Mungkinkah itu semua sebagai akibat riak air nan terlampau tenang dalam rumah tangga mereka? Beberapa orang memang pernah mengeluhkan kepada saya mengenai kondisi biduk rumah tangganya yang terlampau tenang. Menurut mereka, rumah tangganya bagaikan kapal yang sedang lego jangkar: Terlampau tenang dan amat jauh dari hingar-bingar.

“Lha, bukankah justru itu yang selalu kita harapkan?” tanya saya.

Saya pikir, hanya orang-orang tidak waras saja yang berharap rumah tangganya penuh dengan kehingarbingaran.

Apa jawaban yang saya dapat? Sungguh di luar nalar sehat! Menurut mereka, rumah tangga itu bagaikan kapal yang sedang menyeberangi samudera. Nikmatnya hidup berumah tangga akan terasa legit manakala telah melewati aneka jenis gelombang. Kemenangan terasa begitu indah manakala tantangan hidup telah dapat ditaklukkan. Katanya, rumah tangga tanpa pertengkaran bagaikan sayur bayam tak bergaram.

“Gendeng!” kata saya. Tapi, itulah realitanya. Kawan saya ini tengah berada di ujung kehampaan. Rasa cinta kepada pasangan hidupnya mulai mengalami erosi. Bukan dikarenakan perselingkuhan ataupun tindakan-tindakan menyakitkan lainnya. Degradasi itu timbul hanya dikarenakan kehidupan rumah tangganya yang begitu lama berada pada zona nyaman.

Semua yang telah dijalani oleh mereka berdua nyaris sempurna. Namun, pada akhirnya tiba jua pada ujung dermaga nan hampa.

“Saya melayani kebutuhan pasangan hidup hanya sebatas kewajiban. Jangan tanyakan soal cinta kepada saya,” hardiknya.

“Ya, monggo kerso kalau memang kemauan Panjenengan seperti itu. Saya tidak akan ikut-ikut,” timpal saya.

Setelah sedikit sesak menghirup nafas, saya pun berkesimpulan: Ternyata ketenangan bisa juga mencabut akar tunggang sebuah pohon rumah tangga.

Bagi kalian yang sedang merancang sebuah biduk bernama rumah tangga, paling tidak pengalaman teman saya ini bisa menjadi referensi. Kelak, bila rumah tanggamu telah terbangun, bersyukurlah tatkala Tuhan menurunkan sebuah dinamika dalam rumah tanggamu. Dinamika itu bisa berbentuk istri yang ngambek lalu pulang ke rumah orang tuanya. Ketika kamu menjemputnya dan mendapatkan nasihat dari mertuamu, rasakan saja kenikmatan perhatian dari mertuamu itu.

Bersyukurlah kita masih diberi dinamika karena dengan dinamika itulah rumah tangga kita menjadi kaya pengalaman. Dan dengan dinamika itulah rumah tangga kita dijauhkan dari kehampaan.

Syarat dan ketentuan berlaku. Sebab, jika “dinamika” itu overdosis, ujung-ujungnya akan tiba juga pada tepi jurang kehampaan.

3 Comments

  1. ingin mendapatkan suami yang soleh, yang bisa menjadi sahabat dalam urusan dunia maupun akhirat… tentu’a yang baik hati dan bisa menjadi pemimpin yang bijaksana didalam keluarga….

  2. Moeztafha says:

    Yapz. .q kepingin punya pasangan hidup, untuk sekarang dan selamanya.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*