Ketika Belahan Jiwa Kita Jatuh Terpuruk dalam Kesepian

Ketika Pasanganmu Jatuh Terpuruk dalam KesepianKawan saya tengah linglung bin pusing tujuh keliling. Bagaimana tidak, istrinya digondol seorang lelaki durjana sejak seminggu lalu. Kata durjana tentunya hanya mengacu pada sudut pandang kawan saya saja. Bisa jadi, istrinya malah menyebut si durjana itu sebagai malaikat bahkan dewa penolong.

Peristiwa tragis yang menimpa teman saya itu berawal dari pertemanan istrinya dengan seorang lelaki berkewarganegaraan salah satu negeri di Timur Tengah. Melaui facebook-lah untuk pertama kalinya mereka berkenalan. Setelah sekian bulan saling bertegur sapa, hubungan di antara keduanya makin intens. Dari hubungan yang tadinya tidak ada apa-apanya itu kemudian berubah menjadi jalinan yang ada apa-apanya.

keduanya kemudian saling bersimpati dan saling ungkap perasaanya melalui pesan pribadi di inbox facebook. Mereka saling jatuh cinta lalu terjebak dalam asmara terlarang.

Konon, dalam setahun terakhir si durjana ini telah dua hingga tiga kali  terbang dari negaranya untuk menyambangi istri teman saya itu. Mereka beradu janji lalu menyalurkan hasrat purbanya dari satu hotel kelas melati ke hotel kelas melati lainnya. Saya benar-benar speechless dan merinding mendengar cerita pilu ini.

Issue panas ini tak pelak menimbulkan diskusi sengit di antara saya dengan istri saya. Katanya, kalau dirunut ke belakang, sudah pasti porsi kesalahan terbesar berada di tangan istri teman saya itu. Apa pun alasannya. Namun demikian, lanjut istri saya, bukan berarti teman saya tak turut andil dalam perselingkuhan tersebut. Bisa jadi, selama ini dia memang cuek bebek terhadap pasangan hidupnya itu.

“Ketika pasanganmu kau biarkan terpuruk dalam kesepian, sangat terbuka peluang adanya seseorang yang singgah dan menghangatkan hatinya. Ketika pasanganmu kau buat menangis jangan menyalahkannya jika ada tangan lain yang mengusap air matanya.” Itulah statement istri saya yang menjadi kesimpulan akhir diskusi panas kami.

Sebagai seseorang yang sangat berempati atas musibah yang menimpa teman saya itu, tentu saya sangat meradang terhadap pernyataan istri saya tersebut. Tapi, setelah dipikir berkali-kali, ada benarnya juga pernyataannya itu.

Kita selama ini mungkin telah menelantarkan pasangan masing-masing. Sebelum penyesalan itu datang, segera kembalilah kepadanya. Mari rajut kembali benang-benang kasih sayang yang selama ini lepas dari jalinan cinta kita terhadap belahan jiwa kita. Lepaskan ego dan sikap mau menang sendiri, lalu berbaliklah untuk memeluk dirinya.

Ingatlah bagaimana kita dulu berjuang dan berkompetisi dengan para pesaing kita. Lihatlah di luar sana, ada sekian orang yang patah hati hingga sekarang karena gagal mempersunting belahan jiwa kita. Sementara sebagai pemenang kompetisi, kita malah menyia-nyiakannya.

Mulailah bersyukur atas karunia kehadirannya. Cukup teman saya saja yang mengalami peristiwa tragis ini. Saya tidak menghendaki kalian yang sedang membaca postingan ini beroleh pengalaman yang sama lalu menjadi korban selanjutnya. Berdoa dan berusahalah agar bencana ini tidak terjadi pada bahtera cinta kita.

One Comment

  1. Kasus di atas sangatlah sulit untuk mempersalahkan yang mana, tetapi menurut saya dalam sebuah hubungan harus memahami antara HAK dan BHAKTI. Jika pasangan tidak dapat memenuhi KEWAJIBAN atas HAK kita, maka dengan BHAKTI yang dimiliki oleh pasangan akan mampu menerjang apapun yang menjadikan karamnya bahtera cinta.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*