Kesetaraan Ciptakan Komunikasi Penuh Kehangatan

KesetaraanPengalaman paling membanggakan sekaligus mengharukan bagi seorang prajurit adalah bisa duduk setara dengan Panglima tertingginnya. Ya, pengalaman itulah yang saya rasakan Jumat 3 Mei lalu. Kami para prajurit dari matra darat, laut, dan udara yang bergabung dalam Latihan Gabungan TNI 2013 bisa duduk sejajar dengan Panglima tertinggi kami yaitu Presiden RI, Bapak Susilo Bambang Yudhoyono, di Pusat Latihan Tempur (Puslatpur) Marinir, Asembagus, Situbondo, Jawa Timur.

Presiden, Wakil Presiden, para menteri, para kepala staf angkatan, para pejabat TNI/Polri, serta sekitar 15.000 prajurit pada hari itu tumplek blek di lapangan Puslatpur. Kami duduk bersila sambil makan siang bersama. Menu yang kami makan pun sama, berupa nasi kotak dengan lauk sepotong ayam goreng, telur ceplok, serta irisan sayuran. Tak ada yang berbeda di antara kami. Kewenangan dan penugasan yang sangat mengikat, pada hari itu terasa begitu mencair di hati kami masing-masing.

Hari itu kami merasa berada dalam posisi setara. Keberadaan kami merasa diakui. Cucuran keringat dan rasa penat sehabis berjibaku dengan jadwal latihan yang ketat seakan hilang begitu saja. Kami merasa tidak dibatasi oleh sekat-sekat yang seakan menghalangi.

Kawan, pengakuan akan kesetaraan rupanya menjadi tips keberhasilan dalam sebuah komunikasi. Ketika seseorang yang berstatus sosial di atas kita dengan rendah hati menerima keberadaan kita, maka kita pun akan dengan ikhlas akan menghormatinya. Dalam bahasa saya tindakan tersebut disebut dengan kesetaraan atau equality. Demikian pula halnya dengan orang lain yang kita perlakukan seperti itu, dia pun akan dengan ikhlas menghargai kita tanpa paksaan. Dan suasana itulah yang saya rasakan pada acara makan siang bersama prajurit TNI dengan Pak SBY siang itu.

Saya rasa, jika suatu saat Tuhan telah memberimu jodoh, sudah sepatutnya untuk melakukan komunikasi sifat setara dengan pasangan hidupmu itu. Secara hirarki memang yang menjadi pemimpin dalam rumah tangga itu adalah suami. Tetapi, jika dengan peran yang dipegangnya sang suami tidak merasa lebih superior serta ikhlas mengakui besarnya peran dari sang istri dan anak-anak, maka keberhasilan dalam berkomunikasi itu akan dengan mudahnya dicapai.

Kegagalan demi kegagalan komunikasi dalam sebuah rumah tangga, di antaranya disebabkan oleh tiadanya keikhlasan untuk saling mengakui peran masing-masing. Suami merasa harus mendominasi karena dirinya merasa paling kuasa. Dia yang menjadi pemimpin dan dia pulalah yang mencari nafkah buat keluarganya. Sehingga, dirinya merasa harus diprioritaskan dalam segala hal, merasa harus didengar segala pendapatnya.

Di sisi lain, ada seorang istri yang begitu dominan. Sang suami, karena dianggap tidak memiliki peran seperti yang diharapkannya, maka diperlakukannya secara tidak proporsional. Demikian pula dengan anak-anaknya.

Bercermin pada pengalaman saya saat makan bersama Pak SBY, rupanya untuk memecahkan kebuntuan sebuah komunikasi itu sesungguhnya terletak pada pengakuan akan adanya kesetaraan. Kesetaraan bukan dalam pengertian bahwa kita sama secara hirarki, melainkan saling menghargai perbedaan peran dalam hirarki tersebut.

Dan bila kesetaraan itu bisa berjalan dalam jalurnya, maka komunikasi yang tercipta adalah komunikasi dalam balutan penuh kehangatan.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*