Kaum Lelaki, Janganlah Sok Suci!

Kaum Lelaki, Janganlah Sok Suci!Ada pelajaran berharga yang bisa kita tarik dari peristiwa tertangkap tangannya Ketua Mahkamah Konstitusi, Akil Mochtar, oleh KPK. Ya, ketika menjadi jubir MK, Akil berkoar-koar mengenai kegemasannya terhadap para pelaku korupsi.

“Potong saja jari para koruptor itu. Biar mereka merasa jera atas perbuatan korupnya itu dan biarkan yang punya niat untuk korupsi untuk berpikir dua kali sebelum menjalankan niat kotornya itu.”

Kurang lebih seperti itulah usulan yang disampaikannya beberapa waktu yang lalu. Tapi, beberapa saat kemudian, ternyata apa yang diucapkannya itu bak senjata makan tuan. Akil digelandang KPK karena diduga tersangkut praktik suap dalam Pemilukada di Gunung Mas, Kalimantan Tengah dan praktik-praktik kongkalikong di tempat lainnya.

Kawan, khususnya ikhwan-ikhwan yang rupa bentuk kelaminnya sama dengan saya, mulai hari ini marilah kita tidak lagi berkoar-koar tentang kesucian kita. Apalagi jika obral tentang kesucian itu dikumandangkan dengan lantang di depan cewek kita.

Ingatlah, kesucian dan kelurusan tingkah laku kita bukan diukur oleh kata-kata, melainkan oleh praktik laku kita sehari-hari. Kita mengklaim diri sebagai orang paling suci di dunia nyaris mengalahkan para wali. Tapi, itu semua tidak akan berarti tanpa hadirnya bukti otentik mengenai diri kita yang sebenarnya.

Biarkan kesucian diri kita itu diberitakan melalui mulut orang lain. Bukan melalui mulut kita sendiri. Ya, hanya orang lainlah yang bisa menilai lurus tidaknya prilaku kita.

Tengoklah Jokowi. Tak pernah terucap sepatah kata pun dan tak terlintas sedetik pun dari mulut Jokowi mengenai kehebatan dirinya. Tak pernah sekali pun Gubernur DKI ini menyerang seseorang dengan semburan kata-kata yang menyudutkan. Tapi, masyarakat luas bisa menilai sejauh mana tingkat kebersihan akhlak Jokowi. Sehingga, mereka berani pasang badan demi sosok yang dicintai mereka itu.

Jadi, mulai hari ini singkirkan jauh-jauh sikap sok suci kita dengan kata-kata. Tunjukkan saja kebersihan dan kesucian akhlak kita melalui perbuatan semata. Kita tidak berharap nasib yang dialami Akil Mochtar kemudian menular terhadap diri kita.

Semoga Allah SWT senantiasa menjauhkan kita dari niat dan kesempatan untuk berbuat jahat kepada siapa pun dan di manapun. Dan semoga kita dijauhkan dari orang-orang yang berniat jahat kepada kita. Amien YRA.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*